Jurnalis dan Peran Penting Coworking Space | Ubah Cara Kerjamu

Jurnalis dan Peran Penting Coworking Space

Alasan mengapa jurnalis perlu memanfaatkan coworking space dalam menjalani pekerjaannya. Ilustrasi oleh Nadya Noor | Ubah Cara Kerjamu | COCOWORK

Jurnalis dan coworking space bisa menjadi perpaduan menarik, dalam hal produktivitas serta fleksibelitas kerja.

Fleksibel. Kata itu kiranya menjadi satu di antara poin penting bagi para jurnalis dalam menjalankan tugas. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Sharona Coutts, eks jurnalis investigasi The Global Mail, misalnya, yang mengungkapkan, banyak menemukan ide kreatif lewat cara bekerja fleksibel.

 

“Saya menemukan fakta, kami (jurnalis) akan lebih produktif ketika terdapat dua atau tiga orang dari latar belakang berbeda di beberapa tempat, bertukar ide satu sama lain. Sangat menyenangkan bisa memiliki banyak pandangan,” kata dia, seperti dilansir Contently.net.

Pendapat Sharona Coutts di atas merupakan contoh nyata bagaimana pada akhirnya coworking space, yang juga menekankan fungsi fleksibilitas, bisa berkembang sangat pesat pada dewasa ini. Semenjak coworking space pertama kali dibuka pada 1995 oleh C-Base, tren bekerja coworking tersebut tidak mengalami penurunan.

Baca jugaMengajak Pekerja Konvensional Bekerja di Coworking Space

Saat ini, menurut artikel Reonomy edisi April 2018, terdapat sekitar 14.000 coworking space di berbagai belahan dunia. Pengguna coworking space pun terus meningkat dan diprediksi akan mencapai angka 1 juta orang sepanjang tahun ini.

Sementara coworking space mampu mengubah gaya kerja tradisional di kantor menjadi ke dalam ruang kolaborasi, sejumlah perusahaan di berbagai industri juga mulai mengaplikasikan hal tersebut untuk para pekerjanya. Microsoft, misalnya, yang membiarkan 30 persen dari pegawainya menggunakan coworking space di New York.

Cara kerja jurnalis

Tina Firesheets, jurnalis veteran Greenboro News and Record, mengatakan, untuk menjadi jurnalis andal, setidaknya harus memerhatikan tiga hal ini: fokus, tak kenal rasa takut, dan fleksibel. Menurut dia, “Menjadi jurnalis, Anda akan belajar banyak hal baru setiap hari. Jurnalis adalah pekerjaan untuk orang yang selalu ingin tahu, dan orang yang ingin mengerti dan masuk ke dalam untuk memahami kehidupan orang lain.”

Secara umum, biasanya jurnalis dianggap akan cocok bagi orang-orang yang gemar menulis atau memiliki ide kreatif. Pandangan tersebut sebenarnya sah-sah saja. Namun, apabila menilik lebih dalam, jurnalis tentunya membutuhkan skill lebih daripada kedua hal tersebut. Oleh karenanya, muncul anggapan, jurnalis adalah pekerjaan yang tidak mengenal waktu dan tempat, karena berbagai “peristiwa menarik” bisa muncul kapan saja, dan di mana saja.

Baca juga: Belajar Berbagi di Ruang Kerja Bersama

Sederhananya, setiap penulis andal dan pemikir kreatif bisa menjadi jurnalis. Namun untuk memberitakan atau memasukkan pemikiran mereka di dalam tulisan yang bermanfaat bagi para pembaca biasanya hanya bisa dilakukan para jurnalis berpengalaman. Lantas, bagaimana proses kreatif bagi para jurnalis tersebut bisa tercipta?

Bekerja di tempat yang nyaman bisa menjadi satu di antara solusi. Toh, saat ini juga sudah mulai populer titel freelance journalist. Menurut artikel Forbes edisi 21 Juli 2018, Greta Salomon, menuliskan, perbedaan mendasar antara jurnalis yang bekerja di media-media umum dan jurnalis lepas hanya mengenai persoalan pemahaman etika dan prinsip jurnalistik semata. Hal ini tentunya selaras dengan kemunculan citizens journalism, yang marak pada dewasa ini.

Semua orang bisa mengabarkan peristiwa apapun dari mana saja. Hal tersebut tentu bermanfaat karena informasi bisa menyebar luas di tengah era digitalisasi kepada masyarakat. Oleh karenanya, wajarlah untuk menciptakan ide kreatif para jurnalis tersebut perlu juga didukung pula dengan fasilitas yang memadai. Dan satu di antaranya caranya adalah dengan menggunakan coworking space sebagai tempat bekerja.

Coworking space untuk jurnalis

Beberapa fakta di atas pun berkorelasi dengan kemunculan beberapa coworking space yang ditunjukkan untuk para jurnalis. Pada 2012, misalnya, freelance journalist ternama asal Amerika Serikat, Kyle Chayka, secara khusus mendirikan coworking space, yang awalnya berasal dari ide ingin membangun newsroomkecil bagi para jurnalis lepas, periset, serta penulis di Buschwick, New York.

Join Our Newsletter


Menurut dia, “Tempat ini akan sama seperti newsroom pada umumnya dan akan bisa menjadi ruang untuk para jurnalis saling berkolaborasi dan melemparkan ide antara jurnalis satu sama lainnya. Biasanya, hal ini tidak dirasakan oleh para jurnalis yang sering berpindah-pindah tempat saat bekerja.”

Saat ini, di Amerika Serikat banyak coworking space yang ditunjukkan khusus bagi para jurnalis. Misalnya, The Study Hall yang merupakan coworking space milik Kyle Chayka cs, atau Brooklyn Writers Space, Writers Room Inc. Atau Park Slope Desk, yang memberikan harga membership hanya 1 dolar kepada jurnalis lokal di Brooklyn.

Baca juga: Melihat Perjuangan Kaum Muda Melalui Perkembangan Startup di Indonesia

Lalu, bagaimana di Indonesia? Sejauh ini, tren coworking space di Indonesia juga berkembang dengan pesat. Tanpa sadar, coworking space pun menjadi tren tersendiri untuk para pekerja milenial, dan juga tentunya para jurnalis.

Teranyar, para jurnalis yang sedang meliput event Asian Games 2018 di Jakarta bisa merasakan hal itu. CoHive menyediakan tujuh lokasi coworking space yang bisa digunakan secara gratis selama event berlangsung. Jadi, setidaknya para jurnalis yang meliput Asian Games tidak perlu repot kembali ke kantor untuk menuangkan ide-ide kreatif ke dalam tulisan setelah meliput gelaran olahraga terbesar di Asia itu.

Toh, satu di antara hal penting bagi jurnalis adalah memikirkan cara memaksimalkan fasilitas agar fleksibel dan mobilitas bekerja mereka bisa memunculkan ide kreatif yang tidak terbatas, sama seperti pernyataan Sharona Coutts di atas.

Facebook Comments

Next Read

Coworking Space Menginspirasi Perubahan Budaya Ker... Bagaimana cara coworking space mampu mengubah budaya kerja masyarakat dan kantoran yang masih menggunakan sistem nine to five

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *