Ketika Rumah Tak Lagi jadi "Surga" Para Freelancer | CoHive

Ketika Rumah Tak Lagi jadi “Surga” Para Freelancer

Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Surga Para Freelancer | Ubah Cara kerjamu | COCOWORK

Saat ini, ada berbagai alasan kenapa rumah sudah tidak lagi menjadi tempat menyenangkan bagi para freelancer.

Rumah merupakan tempat bernaung bagi setiap insan di dunia. Pada umumnya, tempat tersebut adalah wadah untuk orang-orang melepas rasa lelah, bercengkerama dengan keluarga, memunculkan ide-ide cemerlang, hingga menghasilkan uang.

 

Para pekerja kantoran yang memiliki rutinitas serupa setiap pekannya biasanya menganggap rumah hanyalah sebatas tempat beristirahat dan berkumpul bersama keluarga maupun sahabat. Mereka sudah terlalu letih untuk menjadi produktif dalam pekerjaan karena padatnya aktivitas yang dijalani sepanjang hari.

Fenomena yang dialami para pekerja kantoran justru berbanding terbalik dengan freelancer. Anggapan itu mencuat karena secara harfiah, freelancer yang diartikan sebagai orang yang bekerja paruh waktu, sementara pekerja lepas, dianggap sebagai individu yang tidak terikat dengan aturan perusahaan maupun lembaga.

Baca juga: Mengajak Pekerja Konvensional Bekerja di Coworking Space

Bagi jenis pekerjaan seperti ini, rumah tentunya menjadi “surga” karena dianggap mampu menghasilkan profit maksimal dengan pengeluaran yang minim. Para freelancer juga tentunya tidak perlu repot memikirkan biaya produksi maupun transportasi, mengingat semua yang diperlukan sudah tersedia di rumah.

Freelancer tidak perlu merogoh kocek membeli bahan bakar untuk kendaraan bermotor mereka, serta menghabiskan banyak waktu karena terhambat arus lalu lintas. Freelancer juga tak melulu membeli makanan atau minuman, mengingat tidak berkunjung ke kedai kopi maupun kafe untuk memulai pekerjaan.

Oleh karena itu, berbagai fakta di atas tersebut kerap menjadi alasan-alasan bagi freelancer memilih bekerja di rumah. Pola pikir itu pun bakal terus mereka pertahankan demi meraih hasil kerja maksimal, sejalan juga dengan profit-nya.

Bumerang

Akan tetapi, satu hal yang patut digarisbawahi juga, rumah ternyata tidak selamanya menjadi “surga” bagi freelancer. Rumah bisa menjadi bumerang untuk mereka. Satu di antaranya karena tingkat pendapatan berpeluang menurun karena minimnya produktivitas.

Freelancer tidak selamanya bisa menjaga fokus ketika bekerja di rumah. Mereka terkadang harus berbenturan dengan keseharian yang ada, misalnya, seperti membantu pekerjaan rumah,atau malah menjadi tidak fokus karena sering “bersentuhan” dengan sosial media, atau distraksi dari undangan hangout dari rekan.

Baca juga: Belajar Berbagi di Ruang Kerja Bersama

Belum lagi stigma negatif masyarakat sekitar bagi para freelancer. Stigma “tidak ke kantor” pun bisa membuat publik berpendapat, freelancer sebagai pengangguran karena yang bersangkutan selalu ada di rumah setiap waktu.

Dr. Melanie Peacock, Professor Mount Royal University, pun mengatakan, bekerja di rumah tidaklah selalu efektif. Menurut dia, salah satu hal krusial yang mesti diperhatikan apabila bekerja di rumah adalah kurangnya sarana untuk bersosialisasi.

“Kita adalah mahkluk sosial dan jika tidak bersosialisasi, kita akan stres, tidak bisa beristirahat dengan tenang dan baik, fokus terhadap berbagai tantangan, dan masalah-masalah lainnya dalam dunia kerja,” kata Melanie.

Join Our Newsletter


Berdasar poin sosialisasi itulah pada akhirnya yang membuat coworking space bisa menjadi solusi bagi freelancer untuk bisa maksimal dalam bidang pekerjaan. Mereka bisa menjadi lebih fokus dalam bekerja tanpa mengalami “gangguan” apa pun.

Meningkat tiap tahun

Berdasarkan riset yang dilakukan Cushman dan Wakefield, Inggris, misalnya, khususnya London, mengalami peningkatan pengguna coworking space sebesar 7,5 persen dibandingkan 2017. Pengguna coworking space pun tidak hanya sebatas freelancer, melainkan juga banyak diisi para traditional employees, hingga startup.

Di London, misalnya, telah berdiri kukuh banyak coworking spaces dengan para penggunanya di area seluas 2,5 juta meter persegi. Jumlah itu lebih dari 21 persen dari seluruh ruang kantor yang tersedia di ibukota Britania Raya.

Biaya sewanya pun terjangkau, mengingat setiap orang yang bekerja di sana rata-rata hanya perlu merogoh kocek mulai dari 65,5 poundsterling atau setara Rp 1,22 juta setiap bulannya. Angka tersebut mengalami peningkatan 10 persen dibandingkan 2017.

Baca juga: Melihat Perjuangan Kaum Muda Melalui Perkembangan Startup di Indonesia

Fenomena yang terjadi di London, Inggris, sejatinya tidak berbeda jauh jika berkaca dengan situasi yang dialami Indonesia. Pada April 2017, tercatat ada 75 coworking space yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

Di Jakarta, freelancer tidak sulit menemukan coworking space. Setidaknya ada beberapa tempat yang bisa dijadikan pertimbangan, misalnya, CoHive yang mempunyai 20 lokasi yang tersebar di Jakarta bisa menjadi jawabannya. CoHive pun menyediakan pilihan Daily Pass, Flexi Desk, Dedicated Desk, dan Private Office.

Para pekerja pun bisa lebih efektif jika memilih coworking space. Suasana nyaman dengan berbagai konsep desain ruangan unik yang diusung di masing-masing tempat, dapat meningkatkan kreativitas, dan produktivitas bagi setiap individu.

Tidak hanya suasana nyaman, coworking space juga tidak hanya sekadar menjadi tempat bekerja, tetapi juga dapat menjadi sarana berkolaborasi. Semangat kolaborasi tersebut kiranya akan lebih mudah tercipta di coworking space daripada bekerja di kantor-kantor tradisional ataupun rumah dengan berbagai fasilitas yang ada.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *