Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer | Ubah Cara Kerjamu

Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

UX Writer menjadi satu di antara profesi populer bagi kalangan yang ingin menjawab tantangan zaman pada era digital.

Era modern ini banyak orang yang lebih percaya dengan omongan orang sebelum benar-benar mencobanya sendiri. Tidak heran kalau semakin banyak bermunculan penulis konten di tengah berkembangnya industri kreatif sekarang. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan opini atau menyampaikan sebuah fakta menarik untuk orang banyak lewat blog atau medium semacamnya.

 

Di Indonesia, misalnya. Menurut data BEKRAF, pada 2015, tercatat 1 dari 100 orang Indonesia bekerja di industri kreatif dan menyerap 17,4 persen tenaga kerja. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah setiap tahun. Penulis konten pun menjadi salah satu alternatif bagi pekerja mendapatkan penghasilan di industri kreatif.

Baca juga: Bangkitkan Produktivitas dan Kreativitas di Coworking Space

Berbicara soal dunia penulisan, salah satu hal yang sedang populer saat ini adalah User Experience (UX) writing. Apakah UX writing sama seperti copywriting yang sudah umum kita dengar? Jawabannya, tentu berbeda karena copywriter lebih memfokuskan penulisannya terhadap penjualan produk di aplikasi atau website.

Sementara itu, UX writing merupakan teknik menulis di platform online, misalnya aplikasi dan website, yang bertujuan untuk memandu pengguna platform tersebut melalui sebuah proses. Dengan kata lain, dalam proses tersebut, UX writing akan memfasilitasi interaksi antara manusia dan mesin dalam platform online.

Manusia dan mesin

Dalam pembahasan ini, pengalaman Galih Pambudi, salah satu UX writer aplikasi online transportasi di Indonesia, dapat menjadi contoh menarik. Dalam salah satu blog-nya di Medium edisi 7 Februari 2017, Galih mengaku mendapat inspirasi besar untuk mempelajari teknik UX writing dari tokoh kartun Doraemon.

“Yang membuat Doraemon asyik banget adalah, walaupun ia robot, tapi Doraemon bisa berkomunikasi layaknya manusia. Dia bisa mengerti bahasa dan gestur kita. Doraemon juga punya emosi sama seperti kita,” kata Galih.

Baca juga: Coworking Space: Menjaga Keseimbangan Hidup Pekerja Lepas

Menurut Galih, dalam penulisan, UX writer mungkin dapat “memposisikan diri” sebagai Doraemon. Ia mengatakan, “Menulislah seperti sedang mengobrol dengan seseorang, sehingga Anda bisa menjalin kedekatan dengan mereka. Ketika Anda dapat memberikan sentuhan manusia, karakter, dan kepribadian dalam tulisan kita, orang-orang bisa merasakan kehadiran Anda sebagai seseorang, bukan sesuatu (mesin).”

Satu pandangan dengan Galih, salah satu UX writer platform chatting di Indonesia, Bayu Aditya, pun mengaku mempelajari teknik UX writing susah-susah-gampang. Bayu yang memiliki pengalaman lebih dari dua tahun sebagai copywriter, menilai menjadi UX writer memiliki tantangan menarik yang menutut kreativitas besar.

Join Our Newsletter


“Jadi, intinya, sebagai UX writer, kita itu tentunya tidak hanya memiliki tugas menulis saja, tetapi juga tahu seperti apa perasaan dan emosi user dan apa yang mereka butuhkan ketika berinteraksi dengan produk kami,” tutur Bayu.

Peran Baru

Lantas, dari beberapa pengalaman di atas pun muncul pertanyaan, apakah UX writing perlu dipertimbangkan menjadi peran baru bagi para penulis konten? Jawabannya, bisa jadi demikian. Apalagi, di tengah era digital, khususnya dengan berkembangnya industri kreatif yang berbasiskan teknologi seperti saat ini.

Baca juga: Mengajak Pekerja Konvensional Bekerja di Coworking Space

Belum lagi bicara mengenai Indonesia yang menjadi pasar potensial ekonomi digital. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi pasar digital terhadap PDB Indonesia pun terus meningkat, dari 3, 61 persen pada 2016, menjadi 4 persen pada 2017. Tahun ini diprediksi angka tersebut akan kembali mengalami peningkatan hingga mencapai 8-10 persen.

Oleh karena itu, wajar jika penulis-penulis konten digital saat ini laris manis dalam dunia kerja. Namun, yang patut digarisbawahi, meski berkembangnya peran UX writing, bukan berarti tipe pekerjaan seperti content creator dan copywriter hilang ditelan arus digitalisasi. Semua hanya tinggal bagaimana cara kita cepat beradaptasi demi memahami tuntutan zaman, yang satu di antaranya adalah dengan mengubah cara kerja kita.

Facebook Comments

Next Read

Produktivitas dan Benefit dari Desain Ruang Kerja Diperlukan metode khusus saat mendesain ruang kerja yang dianggap memiliki pengaruh terhadap produktivitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *