Startup Fintech dan Masa Depan UKM di Indonesia | Ubah Cara Kerjamu

Startup Fintech dan Masa Depan UKM di Indonesia

Startup fintech sedang berkembang pesat di Indonesia dan memiliki peran besar membantu para pemilik UKM.

Bisnis startup terus mengepakan sayap di tengah era digitalisasi. Satu di antara model bisnis tersebut yang sedang menjadi pembicaraan hangat adalah perusahaan financial technology (fintech).

 

Menurut data World Fintech Report, saat ini tercatat sudah ada lebih dari 7500 perusahaan fintech di dunia. Perkembangannya pun terus meningkat. Global Venture Capital, misalnya, yang mencatatkan keuntungan 27,4 miliar dolar AS pada 2017, naik 18 persen dari tahun sebelumnya setelah berinvestasi dalam bisnis tersebut.

Baca juga: Tantangan Coworking Space dalam Mendongkrak Kultur Timur

Perkembangan bisnis fintech secara global memengaruhi sektor bisnis di Indonesia. Berdasar catatan Research Gate, awalnya hanya ada empat perusahaan fintech di Indonesia pada 2006. Jumlah itu terus meningkat setiap tahun dan pada periode 2015-2016 tercatat sudah ada 165 perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Bisnis fintech berkembang pesat di Indonesia karena berbagai macam inovasi digital telah tersebar di berbagai lini kehidupan masyarakat. Lihat saja salah satu contoh nyata, jumlah orang yang memiliki smartphone untuk mengakses berbagai layanan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari transportasi, belanja, hingga membayar tagihan listrik dan air.

Berdasar hal inilah, wajar pula apabila pemerintah Indonesia mulai mencanangkan ekonomi digital sebagai salah satu fokus utama pembangunan. Pada 2020, Indonesia pun diharapkan dapat menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan potensi sebesar 130 miliar dolar AS (sekitar Rp1,790 triliun).

Ekspansi bisnis

Tidak sulit mencari contoh berkembang pesatnya fintech di Indonesia, khususnya di sektor pembayaran (payment) dan pembiayaan (P2P lending). Ekspansi OVO misalnya. Startup fintech milik Lippo Group yang awalnya memiliki target menggaet konsumen dengan menawarkan promo menarik itu, kini mulai beralih juga dengan menjadi “dompet” utama para konsumennya saat sedang bertransaksi.

Contoh lainnya kita bisa melihat Go-Pay, Grabpay, T-Cash yang menerapkan strategi sama dalam sektor payment. Ekspansi beberapa perusahaan tersebut kiranya wajar terjadi karena, menurut data World Bank, transaksi di Indonesia 83 persennya masih dilakukan secara tunai, dan hanya 17 persen yang non-tunai, pada 2016.

Baca juga: Bangkitkan Produktivitas dan Kreativitas di Coworking Space

Sementara itu, dari sektor peminjaman peer to peer (P2P lending), kita bisa melihat bagaimana Modalku, yang menurut catatan TechInAsia, sukses mendapatkan pendanaan sekitar Rp344 miliar, pada April 2018. Demikian halnya dengan Gojek yang dikabarkan bakal menggandeng tiga startup fintech, yakni Findaya, Dana Citra, dan Aktivaku

Suntikan dana untuk startup dan ekspansi bisnis tersebut pun semakin menguatkan posisi fintech dalam sektor perekonomian Indonesia. Belum lagi melihat banyaknya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang masih memerlukan pinjaman modal di Indonesia.

Memajukan UKM

Menurut Katadata, mayoritas jenis UKM yang paling banyak meminjam dana berasal dari sektor energi, ekonomi kreatif, dan retail. Jadi wajar, apabila saat ini banyak startup fintech yang menyediakan layanan P2P lending di Indonesia “laris manis”.

Modalku, misalnya, yang saat ini tercatat sebagai perusahaan fintech pertama yang sukses menyalurkan pinjaman hingga Rp2,7 triliun per awal September 2018, menurut data dari Kadata.com. Selain itu, ada pula Investree, marketplace pinjaman P2P lending, yang telah menyalurkan pinjaman Rp 940 miliar pada periode yang sama.

Join Our Newsletter


Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pun memprediksi, dengan bertambahnya jumlah perusahaan fintech tersebut, penyaluran kredit bisa mencapai Rp 20 triliun pada akhir 2018. Berdasar hal inilah, sempat pula muncul anggapan, fintech adalah salah satu kunci agar sektor UKM di Indonesia bisa naik kelas pada masa depan.

Kreativitas dan kolaborasi

Pada akhirnya, kita pun dapat menarik kesimpulan dari berbagai fakta di atas bahwa fintech merupakan fenomena yang tidak terhindarkan dalam era digitalisasi seperti sekarang. Satu di antara kunci fenomena fintech dapat terus berkembang adalah inovasi dari ide-ide kreatif.

Toh, berbicara soal sumber daya manusia, fintech memang memerlukan orang yang memiliki inovasi tinggi, serta juga kreatif dan dinamis untuk menjawab kebutuhan masyarakat atas persoalan ekonomi mereka masing-masing.

Baca juga: Coworking Space Menginspirasi Perubahan Budaya Kerja

Hanya saja, yang perlu digarisbawahi juga, dengan adanya fintech, bukan berarti sektor perbankan “tradisional” bakal tergerus zaman. Maklum saja, perbankan dikenal memiliki model bisnis jauh lebih matang, dan juga didukung profesional yang tentu juga memiliki pengalaman segudang dalam industri finansial.

Di titik inilah kolaborasi kerja dapat tercipta. Sederhananya, perbankan dan startup fintech memilki misi yang sama memberikan yang terbaik kepada masyarakat, termasuk para pelaku UKM. Tinggal bagaimana mencari teknik-teknik kreatif mengolaborasikan kedua model bisnis tersebut demi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih baik.

Facebook Comments

Next Read

Membangkitkan Kembali Fungsi Utama Perpustakaan Perpustakaan sebenarnya memiliki banyak manfaat kehidupan sehari-hari, termasuk saat kita bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *