Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang? | Ubah Cara Kerjamu

Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Digital nomad dapat menjadi salah satu alternatif profesi bagi para pekerja yang menyukai traveling.

Bagi Anda para pekerja lepas, kosakata digital nomad tentu tidaklah asing di telinga. Apalagi, dengan berkembangnya tren bekerja remote yang semakin populer saat ini, tidak hanya di luar negeri, tetapi juga di Indonesia.

 

Di Amerika Serikat, misalnya, yang menurut laporan Freelancer Union dan Upwork, 36 persen atau sekitar 57,3 juta orang bekerja sebagai pekerja lepas. Mereka menyumbangkan lebih dari 1,4 triliun dolar bagi pertumbuhan ekonomi negara pada 2017. Pada periode tersebut, catatan itu merupakan rekor tertinggi.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Indonesia pun menjadi salah satu negara dengan jumlah pekerja lepas terbanyak di dunia. Director International Freelancer.com Sebastian Siseles, mengungkapkan, pada 2017, jumlah pekerja lepas dari Indonesia yang tercatat dalam situsnya mencapai lebih dari 1 juta orang. Tahun ini angkanya diprediksi jauh meningkat.

Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut. Menurut Managing Director PayPal Asia Tenggara, Rahul Shinghal, banyak pekerja memilih bekerja lepas karena dapat menjadi “bos” untuk diri sendiri. Mereka pun memiliki lebih banyak fleksibilitas dibanding karyawan yang setiap hari harus bekerja dari pagi hingga sore.

Menurut hasil survei kepada 500 responden pada 2017, PayPal mengungkapkan, pekerja lepas di Indonesia kebanyakan pria dan berumur di bawah 40 tahun. Para pekerja lepas tersebut berpenghasilan rata-rata 14.400 dolar AS dengan 14 klien dalam periode satu tahun, pada 2017.

“Kantor” digital nomad

Sebagai pekerja lepas, tentu berbagai tantangan yang dihadapi jauh berbeda dengan para pekerja kantoran yang setiap harinya menghabiskan waktu kerja 9 to 5. Sebut saja tidak adanya asuransi kesehatan atau bonus-bonus perusahaan yang biasanya menjadi salah satu faktor utama ketika orang memilih perusahaan tempat kerja.

Belum lagi bicara soal cara para pekerja lepas memaksimalkan produktivitas dengan berbagai kondisi tempat bekerja. Di titik ini pun muncul istilah digital nomad yang digambarkan orang-orang yang bisa bekerja di mana saja, mulai dari pantai, hingga traveling ke luar negeri, asalkan ada hal utama dalam dunia digital: koneksi internet.

Baca juga: Tantangan Coworking Space dalam Mendongkrak Kultur Timur

Bahkan, Estonia sampai memiliki rencana mengeluarkan visa khusus untuk memfasilitasi para digital nomad yang ingin bekerja di sana selama satu tahun pada 2019. Contoh ini pun semakin menegaskan tren pekerja lepas mendapat perhatian serius di tengah era digitalisasi seperti sekarang.

Jadi, dengan kata lain, bagi para digital nomad, dunia ibarat “kantor” mereka. Mereka bisa tinggal beberapa minggu atau hingga berbulan-bulan di satu tempat bekerja. Hanya saja, hal ini bisa memunculkan “sisi negatif” dalam dunia kerja, yang salah satunya berbunyi, “Anda bisa pergi ke mana saja, asalkan Anda tidak boleh berhenti kerja.”

Disiplin dan gaya hidup

Maklum, faktanya, tidak mudah bagi para digital nomad bertahan dalam menjelankan aktivitas. Toh, bekerja berpindah-pindah tentunya akan memerlukan fokus besar agar produktivitas mereka tetap terjaga untuk meraih hasil maksimal.

Selain itu, para digital nomad juga perlu memerhatikan berbagai aspek, yang kiranya menjadi hal utama dalam kehidupan modern seperti saat ini, yakni kesehatan mental, runitinas, keselamatan, dan perlindungan. Berbagai hal ini harus berjalan seimbang agar mereka bisa mendapatkan hasil yang ingin dicapai.

Belum lagi bicara fakta, para digital nomad juga memerlukan disiplin tinggi dalam bekerja. Digital nomad tidak mengenal atasan dan absen kerja. Risiko distraksi dalam kerja mereka pun cukup tinggi karena mereka biasanya akan mencari kafe atau hotel yang memiliki akses internet cepat jika tidak menemukan coworking space yang tepat.

Berdasar hal itulah terkadang pengeluaran menjadi digital nomad hampir sama dengan pekerja kantoran yang menetap. Bahkan, bisa lebih tinggi, meski hal itu tentu kembali pada gaya hidup masing-masing individu yang menjalankannya.

Join Our Newsletter


Daniel, salah satu digital nomad asal Indonesia punya pendapat khusus terkait persoalan di atas. Menurut digital nomad asal Salatiga tersebut, ada pengalaman berbeda menjadi digital nomad, meski terkadang terbentur masalah biaya.

“Boleh dibilang saya membeli pengalaman dan itu lebih berharga daripada menabung untuk membeli barang,” kata Daniel.

Oleh karena itulah, pola pikir kreatif amat diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan yang sering dialami para digital nomad. Berbagai hal tersebut harus berjalan seimbang agar mereka bisa mendapatkan hasil yang ingin dicapai.

Indonesia jadi magnet

Indonesia pun cukup lekat dari dunia para digital nomad. Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi, dalam artikel CNN Indonesia edisi 28 Mei 2018, pun mengungkapkan, Bali telah menjadi magnet besar untuk menjadi tempat bekerja para digital nomad dari berbagai belahan penjuru dunia.

Hubud di Ubud, Bali, adalah salah satu contoh tempat yang sering disambangi para digital nomad. Menurut artikel Kompas edisi 24 Desember 2017, Hubud telah mencatat 6.000 kunjungan dari 80 negara, yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Lebih dari 90 persen jumlah pengunjung itu adalah digital nomad yang perlu menyelesaikan pekerjaannya di tengah aktivitas liburan mereka ke Indonesia.

Chris, salah satu freelancer asal Australia, dalam blognya christhefreelancer.com, pun mengungkapkan, Bali merupakan destinasi pertamanya saat memutuskan menjadi digital nomad. Ia mengaku mendapat banyak pengalaman berharga ketika bekerja di tengah berbagai kebudayaan lokal di daerah berpenduduk 4,4 juta jiwa itu.

“Mungkin Bali tidak menjadi destinasi murah di Asia, tetapi daerah ini sangat layak buat dikunjungi. Di sini menawarkan perpaduan unik antara hiburan, kebudayaan, dan budaya kerja coworking. Inilah yang membuat Bali menjadi salah satu lokasi utama yang sering saya sebut sebagai destination working,” ungkap Chris.

Baca juga: Startup Fintech dan Masa Depan UKM di Indonesia

Hanya saja, meski beberapa daerah telah menjadi magnet, digital nomad asal Indonesia masih sedikit. Padahal, menurut hasil studi New World of Work pada 2016, Indonesia memiliki nilai tertinggi dalam hal karyawan yang bekerja secara remote. Namun, hanya 29 persen yang merasa telah terfasilitasi tempat kerja untuk menghadapi tantangan era gaya kerja baru.

Tentu saja perubahan gaya kerja seperti ini membutuhkan proses karena akan terus berkembang, dan bisa saja menjadi peluang bagi industri dan startup digital di Indonesia ke depannya. Toh, Levels.io, dalam salah satu artikelnya, pernah menuliskan headline yang memprediksi bakal ada 1 miliar digital nomad yang tersebar di berbagai penjuru dunia pada 2035.

Mungkin saat itu, akan semakin banyak lagi orang yang butuh akses internet dan colokan listrik pastinya.

Facebook Comments

Next Read

Komunitas dan Industri 4.0 dalam Keseharian Kita Revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata menyimpan tantangan besar dalam kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *