Komunitas dan Industri 4.0 dalam Keseharian Kita | Ubah Cara Kerjamu

Komunitas dan Industri 4.0 dalam Keseharian Kita

Komunitas dan Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata menyimpan tantangan besar dalam kehidupan kita.

Gaung era revolusi industri keempat atau biasa disebut juga industri 4.0 terus berkumandang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Lihat saja semakin banyaknya penggunaan mesin yang terintegrasi dengan jaringan internet (Internet of Things) di beberapa sektor industri.

 

Pada April 2018, Presiden Joko Widodo, meluncurkan “Making Indonesia 4.0” sebagai road map dan strategi Indonesia dalam memasuki era digitalisasi yang menjadi perhatian utama di berbagai negara berkembang. Bentuk implementasinya, Jokowi berharap, “Indonesia dapat mencapai 10 besar ekonomi global pada 2030.”

Baca juga: Wanita dan Tren Coworking di Indonesia

Konsep industri 4.0 pertama kali dipopulerkan Profesor Klaus Schwab, asal Jerman. Dalam karyanya The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab menjelaskan, revolusi 4.0 adalah tahap industri mulai menyentuh dunia virtual, baik dalam bentuk konektivitas manusia, mesin dan data yang tersebar dalam dunia digital.

Menurut Klaus Schwab, sebelumnya dunia telah mengalami tiga fase revolusi industri. Pertama pada akhir abad ke-18, ketika ditemukannya alat tenun mekanis dengan menggunakan tenaga air dan uap di Inggris pada 1784. Revolusi industri 2.0 terjadi ketika muncul pembagian jam kerja di Amerika Serikat, pada 1870.

Revolusi industri 3.0 kemudian terjadi pada awal 1970-an yang ditandai dengan penggunaan perangkat elektronik (PLC) modem 084-969 dalam kegiatan produksi. Sistem berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia, sehingga biaya produksi jauh lebih murah daripada sebelumnya.

Berbagai inovasi dalam revolusi industri ini pada akhirnya mengerucut ke dalam persoalan bagaimana cara meraih keuntungan dalam proses produksi di tengah terus berkembangnya zaman. Cara beradaptasi secara masif pun diperlukan.

Kolaborasi jadi kunci

Oleh karena itulah, wajar apabila dikatakan revolusi industri 4.0 bisa menjadi hal menguntungkan bagi para pelaku bisnis. Arus digitalisasi yang sedemikian masif membuat model tersebut bisa mengurangi biaya apalagi jika ada kolaborasi antarpemain industri di berbagai sektor yang terlibat.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Dosen Institut Teknologi Bandung, Richard Mengko, dalam artikel Detik.com edisi 28 Mei 2018, pun mengakui hal tersebut. Menurut dia, untuk mencapai keberhasilan berbisnis di era digital, kolaborasi dan komunikasi harus dibentuk dengan sangat baik agar tercipta ekosistem yang kuat dan saling menguntungkan.

“Untuk itu, kita perlu memperhatikan karakteristik dan bentuk-bentuk perkembangan teknologi saat ini agar dapat memanfaatkannya secara maksima. Langkah-langkah antisipasi yang tepat juga kita perlukan,” ujar Richard Mengko.

Dalam hal ini, kita bisa melihat upaya pemerintah Hongkong saat membentuk Economic Development Commission (EDC) yang fokus mengembangkan lebih jauh posisi industri di negara tersebut pada 2013. Salah satu tugas utama EDC adalah memfasilitasi kolaborasi yang terjadi antara sejumlah industri di berbagai bidang.

Join Our Newsletter


Inisiatif itu, menurut Direktur Marketing Automation.com, Jonathan Wilkins, menjadi kunci keberhasilan Pokemon GO saat memasarkan produknya. Berkat kolaborasi dengan sejumlah industri manufaktur, termasuk Banpresto dan Jakks Pasific, Pokemon GO pun meraih keuntungan besar saat melakukan promosi penjualan produk di berbagai penjuru dunia.

Perubahan Tingkah Laku Manusia

Dari berbagai fakta di atas pun kiranya dapat diambil kesimpulan cukup menarik. Revolusi industri 4.0 kiranya adalah perubahan yang akan mengubah diri kita sendiri. Dalam aspek memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya, saat ini kiranya orang-orang lebih sering menggunakan aplikasi online untuk berbelanja daripada mendatangi mal atau pusat perbelanjaan.

Efisiensi waktu pun menjadi kunci dalam contoh perubahan tersebut. Hal ini pun sejalan dengan prinsip dasar revolusi industri 4.0 yang akan meningkatkan efisiensi setinggi-tingginya dalam setiap tahap kehidupan masyarakat.

Namun, satu hal pasti, diperlukan juga adanya kolaborasi antar berbagai pihak agar revolusi industri 4.0 tersebut dapat terus berkembang. Toh, dari kolaborasi tersebut pun bisa terbentuk komunitas-komunitas yang bisa berperan sebagai wadah untuk memahami serta memetakan karakteristik pasar yang ingin dicapai.

Di Indonesia sudah ada beberapa contoh komunitas itu. IndiBest Forum, misalnya, yang anggotanya merupakan para pemain industri dari berbagai sektor. Sebut saja Telkomsel, BNI, Qualcomm, Alfamart, hingga lembaga pemerintahan, seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hinga Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Baca juga: Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Dari contoh-contoh anggota dalam komunitas tersebut, kiranya menggambarkan peranan dan fungsi yang berbeda untuk berjalan bersama-sama dalam industri 4.0. Intinya, dari peran dan fungsi itulah kita dapat menyadari telah menjalani perubahan dalam kehidupan sehari-hari di tengah arus digitalitasi seperti saat ini.

Sederhananya, apakah Anda sadar akses teknologi Gojek telah mampu mengubah perilaku Anda dalam menggunakan transportasi umum di Indonesia? Atau apakah Anda merasa cukup nyaman bekerja di luar kantor dengan koneksi internet yang sudah tersebar di mana-mana, baik di cafe, restoran, hingga ruang terbuka? Di titik inilah, revolusi industri 4.0 mengambil perannya.

Facebook Comments

Next Read

Melihat Perjuangan Kaum Muda Melalui Perkembangan ... Perjuangan kaum muda di Indonesia bisa dilihat dari maraknya kemunculan startup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *