Membangkitkan Kembali Fungsi Utama Perpustakaan | CoHive

Membangkitkan Kembali Fungsi Utama Perpustakaan

Membangkitkan Kembali Fungsi Utama Perpustakaan

Perpustakaan sebenarnya memiliki banyak manfaat kehidupan sehari-hari, termasuk saat kita bekerja.

Sebuah tempat mengumpulkan orang dan ide yang seharusnya semakin ramai diisi oleh orang-orang beride brilian. Kaum modern lebih mengenal coworking space untuk mereka menggabungkan tali-tali ide menjadi sebuah hasil yang tak terpikirkan sebelumnya.

 

Coworking space semakin dikenal dengan sebuah inovasi baru di era yang semua harus bisa dilakukan di mana pun. Banyak digital nomad dan pekerja remote memilih membuka laptop di tempat ini. Tempat ini juga jadi incubator sebuah startup yang pertumbuhannya sangat gencar dalam 10 tahun ke belakang. Faktanya, ide tempat orang bertemu, mengumpulkan sebuah ide, lalu menyampaikannya ke orang lain itu sudah dikenal sejak dulu.

Apalagi kalau bukan perpustakaan. Silakan menyimak sejumlah universitas atau sekolah tinggi di kota-kota besar di Indonesia. Perpustakaan sering dimanfaatkan untuk berdiskusi, mengerjakan tugas kelompok dan individu, atau menghindar dari keramaian untuk mencari ide-ide baru.

Baca juga: Produktivitas dan Benefit dari Desain Ruang Kerja

Perpustakaan era modern dalam sebuah universitas dan coworking space punya pemandangan yang tidak jauh berbeda. Anda bisa menemui seseorang yang sibuk dengan laptopnya sambil menutup telinga dengan sebuah headset. Juga, sekelompok orang berbincang hendak berdiskusi tentang inovasi baru atau sebuah masalah yang harus dipecahkan.

“Kami melihatnya sebagai sebuah template awal dari universitas. Mereka punya ruang kuliah dan aula. Mereka (juga) punya coworking space,” ujar Tracy Lea, Venture Manager Arizona State University’s Economic Development and Community Engagement Arm dilansir dari QZ.

Tracy juga menambahkan, konsep memecahkan masalah bersama dalam sebuah tempat sudah dilakukan sejak 2.000 tahun silam. Kala itu, filsuf dan ahli matematika sudah duduk bersama-sama membuka buku untuk membuat sebuah paham baru yang diyakini kebenarannya. Di mana mereka melakukannya? Sudah pasti di rumah banyak buku tersimpan rapi, yaitu perpustakaan.

Apa Konsep Perpustakaan Sudah Mulai Ditinggalkan?

Uwe Nüstedt, Public Relations Officer di Wolfsburg Municipal Library mengatakan, perpustakaan masih ada di dalam tahap pengembangan sampai pada tingkat yang cukup besar. Dengan kata lain, tempat tersebut harus bisa menjadi penyedia media dalam hal apa pun.

Di sisi lain, juru bicara dari Coworking Initiative Deutschland, Christian Cordes, menilai, antara perpustakaan dan coworking space lebih banyak perbedaannya dibanding kesamaan. Coworking space dibuat untuk menyiapkan komunitas dan membangun soft skill dari orang-orang yang datang ke tempat tersebut.

Baca juga: Mendesain Coworking Space untuk Semua Generasi

Menurut Cordes, perpustakaan belum cukup tepat bila bisa disebut sebagai tempat seperti coworking space atau ruang untuk berkolaborasi. Perpustakaan masih dalam tahap pengembangan untuk mengakomodasi para masyarakat digital yang sudah semakin banyak dari waktu ke waktu.

Dua pernyataan yang buat kita bertanya-tanya apakah perpustakaan bisa selamat dari berbagai serangan di era digital ini. Memang, sepertinya para pustakawan sudah berusaha keras membuat buku-buku tersebut bisa diakses secara digital di dalam tempat tersebut tanpa perlu terkena debu atau serpihan kertas. Namun, tetap saja tempat tersebut di seluruh dunia makin tahun makin menurun jumlahnya.

Menariknya, penutupan perpustakaan yang terjadi di Amerika pada beberapa tahun ke belakang membawa dampak yang negatif buat anak-anak muda di sana. Laporan dari New York Times yang diambil survei yang dilakukan Pew Research Center menyebutkan, sejumlah perpustakaan yang ditutup buat banyak orang di sana kehilangan sebuah tempat yang sangat penting.

Join Our Newsletter


Survei yang dilakukan pada 2016 ini menemukan, sebagian besar orang Amerika berusia 16 tahun ke atas memanfaatkan perpustakaan umum dalam setahun ke belakang. Dua per tiga dari partisipan survei pun mengatakan, penutupan tempat tersebut ini berdampak buruk pada komunitas mereka.

Dari survei ini kita masih bisa buat kesimpulan, perpustakaan masih merupakan contoh dari sebuah konsep dari dasar-dasar hidup bersosial. Tempat tersebut tidak hanya dipandang sebagai penyedia buku-buku dari seluruh dunia atau materi-materi informasi lainnya. Tempat ini juga menawarkan kehidupan sosial kecil dan saling menghargai. Sama seperti coworking space.

Cahaya Terang

Kafe sebenarnnya menawarkan hal yang sama. Namun, banyak orang enggan datang ke sana lantaran mereka harus membeli secangkir kopi dengan harga yang kadang tidak masuk akal. Suasananya pun sudah pasti tidak sekondusif perpustakaan atau coworking space saat kita mau mulai fokus menyelesaikan pekerjaan.

Ide penggabungan perpustakaan dengan coworking space sebenarnya sudah banyak yang mencetuskan, termasuk Tracy Lea. Pustakawan bukan lagi harus berperang melawan pekerja remote atau komunitas. Merekalah sebenarnya komunitas baru tersebut.

Dua tempat tersebut sudah menawarkan beberapa hal yang serupa: akses internet (perpustakaan modern sudah memilikinya) dan ruang untuk membuka buku atau bertukar pikiran. Jika digabungkan pun tentunya bisa menjadi sesuatu yang sempurna.

Namun, penggabungan tersebut tentunya bukan hanya akan sempurna dari sisi penyediaan jasa, tapi juga dari sisi finansial. Jujur saja, perpustakaan tidak membebani pengunjungnya dengan biaya yang besar. Jika pun ada yang harus dibayar, itu adalah membership supaya bisa mengakses internet dan meminjam buku. Harga yang harus dibayarkan para pengunjung hanyalah ruang yang harus mereka bagi dengan orang lain.

Baca juga: Bangkitkan Produktivitas dan Kreativitas di Coworking Space

Mengutip Eric Klinenberg, profesor sosiologi dan penulis buku, “Kalau kita mau membangun ulang sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik, infrastruktur sosial seperti perpustakaan merupakan hal yang sangat kita butuhkan.”

Mungkin bisa juga diterapkan di Indonesia dengan meramaikan kembali perpustakaan dengan menambahkan sedikit fungsinya. Tempat tersebut seharusnya bukan lagi hanya tempat menampung informasi, tapi seharusnya ditambahkan sisi rekreasi supaya banyak orang semakin tertarik untuk datang dan meramaikannya.

Facebook Comments

Next Read

Coworking: Masa Depan Bekerja atau Sekadar Tren Se... Apakah coworking akan menjadi tren bekerja pada masa depan, atau hanya bakal menjadi tren semata mengikuti perkembangan zaman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *