Coliving Jadi Tren Baru Setelah Coworking Space Menjamur | Ubah Cara Kerjamu

Coliving Jadi Tren Baru Setelah Coworking Space Menjamur

Coliving Jadi Tren Baru setelah Coworking Space Menjamur

Coliving menjadi tren baru setelah coworking space menjamur di berbagai belahan penjuru dunia.

Konsep coworking space sudah bukan barang baru lagi di Indonesia. Perkembangannya sudah sangat pesat dan menjamur hingga Anda pun akan mudah menemukan berbagai coworking space di pusat kota. Coworking space juga jadi tempat idaman para startup dan perusahaan mapan untuk mengembangkan bisnisnya tanpa perlu dibebani dengan cost yang sangat besar.

 

Belum lama konsep coworking space itu ada, muncul lagi konsep baru bernama coliving. Konsep ini pun tidak jauh berbeda dengan coworking, tapi dengan level yang satu tingkat di atasnya. Dalam coliving, Anda tidak hanya berbagi kantor seperti yang ditawarkan oleh coworking space, tapi juga berbagi dalam sisi apa pun, termasuk tempat tinggal.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Targetnya memang lebih kepada digital nomad yang biasanya tinggal dan bekerja di mana pun. Jelas, para milenial masuk ke dalam kelas yang satu ini—sama halnya dengan pasar coworking space. Namun, ternyata coliving juga bisa menjadi solusi dari tingginya harga properti di beberapa negara saat ini.

Memang, konsep yang satu ini belum masuk dan dikenal di kota-kota besar di Indonesia. Konsep coliving baru ada di Bali. Namun, sebenarnya, orang Indonesia sudah cukup akrab dengan konsep tinggal bersama seperti yang diungkapkan Anton Sitorus, Director Head of Research and Consultancy Savills Indonesia tentang fenomena ini.

“Secara fundamental, ini adalah kebiasaan orang Indonesia, yaitu kos-kosan. Kita punya rumah, ada kamar kosong, itu dijual. Akhirnya jadi sharing juga. Cuma, di luar (negara berkembang) itu dipopulerkan,” ujarnya dilansir dari Kompas.com.

Diisi dan Dikelola Profesional

Bedanya, coliving diisi para profesional dan dikelola juga secara profesional. Jadi, bukan seperti kos-kosan dengan mahasiswa atau pekerja kantoran yang tinggal di sana hanya untuk menaruh pakaian, istirahat dari rutinitas, dan menumpang tidur.

Selain harga yang ditawarkan jauh lebih murah ketimbang membeli rumah atau menyewa apartemen, coliving biasanya memberikan kegiatan untuk berkomunitas. Sebut saja, kelas yoga, pemutaran film, coaching clinic, hingga seminar dan workshop yang disesuaikan dengan minat dari para penghuni.

Dengan begitu, para penghuninya pun punya hal baru yang bisa didapat dari tempat tinggal mereka. Head of Research JLL Hong Kong, Denis Ma, menyebutkan, coliving seperti halnya dengan coworking space yang mempertemukan orang dengan komunitas.

“Komunitas masyarakat juga tertarik dengan skema coliving yang berpotensi untuk memperbaiki kesejahteraan penghuni secara keseluruhan,” ujarnya dilansir dari Netral News.

Baca juga: Wanita dan Tren Coworking di Indonesia

Maju di Negara Berkembang

China menjadi salah satu negara yang cepat mengadopsi konsep yang satu ini. Sebuah coliving bernama You+ berhasil menyatukan lebih dari 10 ribu orang dari 25 cabangnya di seluruh China. Situs bernama QZ melaporkan, You+ menawarkan kamar berukuran antara 20—50 meter persegi dengan harga 2.000 Yuan atau sekitar Rp4,3 jutaan per bulan.

Bisa dibilang harga ini cukup terjangkau dan sangat masuk akal dengan segala fasilitas yang didapat—termasuk kamar mandi pribadi dan dapur umum. Dari laporan QZ juga, ada sejumlah warga Beijing yang memanfaatkan You+ saat dia pulang terlalu larut. Harganya? Hanya 60 Yuan atau sekitar Rp130 ribuan. Harga tersebut jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan hostel yang ada di kota tersebut.

Beda di Asia, beda pula di Inggris. Konsep coliving sudah sangat berkembang di sana sejak 2016 lalu. Masalahnya, Anda perlu membayar sangat mahal untuk tinggal bersama dengan 10 atau 15 orang lain di satu rumah besar. Kisaran harga yang harus dibayarkan mulai dari 1.000 Poundsterling atau hampir mencapai Rp20 juta satu bulan.

Join Our Newsletter


Angka tersebut sebanding dengan yang akan didapatkan. Bila kita bicara fasilitas, tentunya sama seperti memiliki rumah sendiri ditambah dengan coworking space. Di samping itu, coliving juga menawarkan kesempatan lain seperti bertemu dengan orang baru dan membuka peluang mulai dari Anda bangun tidur sampai dengan tidur lagi.

Tim Mahlberg, peneliti University of Sydney Business School, mengatakan, tempat seperti ini memang masih menyasar para milenial yang ingin tinggal di mana pun sekaligus ingin membuat hidupnya lebih produktif. Menurutnya, coliving juga membuat para milenial ini membangun bisnis dan koneksi di mana pun.

“(Coliving) bukan hanya berbagi rumah, tapi juga membangun rasa kebersamaan, efisiensi, dan berpikiran jauh ke depan,” katanya dilansir dari The New Daily.

Menanti Coliving Menjamur di Indonesia

Apakah Indonesia sudah mengadopsi konsep ini? Jawabannya pasti sudah. Sejumlah tempat di Pulau Dewata sudah memiliki tempat seperti ini sejak beberapa tahun ke belakang, walaupun memang belum banyak. Tempat ini pun cukup diterima oleh para pendatang, blogger atau digital nomad yang datang ke tempat itu.

Baca juga: Coworking Space Jadi Tempat Paling Subur Lahirnya Startup

Konsep coliving sayangnya belum cukup banyak di kota-kota besar lainnya yang sebenarnya butuh keberadaan tempat ini. Sebut saja Jakarta. Harga beli atau sewa properti di Ibu Kota tampaknya sudah semakin tidak wajar dari waktu ke waktu. Seiring kondisi tersebut banyak orang yang ingin sebuah tempat tinggal yang memberikan nilai lebih.

Jadi, menarik melihat konsep coworking space telah hadir di Jakarta dengan sejumlah modifikasinya. Kalau coworking space bisa dianggap sukses dalam beberapa tahun terakhir, mungkin hal yang sama juga bisa terjadi pada coliving.

Facebook Comments

Next Read

Belajar Berbagi di Ruang Kerja Bersama Ada sederet keuntungan yang bisa didapat dari bekerja di ruang kerja bersama, salah satunya adalah belajar untuk berbagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *