Mengintip Peluang dari Serbuan Teknologi Kecerdasan Buatan | Ubah Cara Kerjamu

Mengintip Peluang dari Serbuan Teknologi Kecerdasan Buatan

Mengintip peluang dari serbuan teknologi kecerdasan buatan.

Serbuan teknologi kecerdasan buatan ternyata memiliki banyak peluang yang bisa kita manfaatkan.

Pengetahuan selama 200 tahun hidup manusia pada masa sebelum internet, sekarang terakumulasi dalam volume yang sama hanya dalam hitungan tahun. Gerd Leonhard, futurist dan penulis buku Technology vs Humanity, adalah salah satu yang menggarisbawahi fakta itu.

 

Akumulasi pengetahuan yang membengkak tiba-tiba tersebut sejalan pula dengan temuan alat-alat berbasis kecerdasan buatan yang punya fungsi menggantikan peran manusia. Paling sederhana, menyapu dan menyedot debu di permukaan karpet sekarang sudah dapat diambil alih alat kecil yang bekerja otomatis sesuai jadwal.

Baca juga: Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang kemudian berkembang lagi menjadi machine learning dan deep learning, sangat mungkin menghadirkan terobosan-terobosan pengganti peran manusia dalam skala lebih besar dan tingkat kesulitan lebih tinggi.

Pekerjaan-pekerjaan rutin yang butuh efisiensi dan lonjakan produktivitas atau sebaliknya pekerjaan ahli tetapi berisiko besar terhadap kesehatan dan bahkan nyawa. Soal waktu saja semua tergantikan robot atau sistem otomatis. Sopir, teknisi, hingga laboran, lambat laun akan menjadi pekerjaan yang spesifikasi pengisinya bukan manusia.

Contoh sederhana, di sejumlah kawasan di Indonesia ada saja orang yang jeli melihat peluang “menambang” emas dari kumpulan sampah elektronik. Hasil yang didapat diakui cukup besar. Namun, pekerjaan itu dilakukan manual dengan risiko paparan zat kimia pemisah logam mulia dan komponen elektronik langsung ke saluran napas pelakunya.

Mesin dan robot

Praktik meraih keuntungan dari sampah elektronik juga terjadi di negara lain. Sebut saja, Jepang. Bahkan, negara itu menggelar program nasional pengumpulan sampah elektronik untuk mendapatkan pasokan logam mulia buat medali Olimpiade 2020. Bedanya dengan di Indonesia, semua proses penambangan di negara ini pakai robot dan mesin.

Dari kedua kejadian yang sejatinya sama-sama berusaha mendapatkan permata dari tumpukan sampah, perbedaan mendasar ada pada risiko dan skala. Yang satu manual dengan risiko kesehatan bahkan nyawa untuk skala produksi terbatas. Sementara yang satu meminimalkan semua risiko terkait penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan dan hasil yang didapat pun berlipat kali.

Mesin dan robot adalah benda yang dirancang dengan tujuan spesifik. AI pun tak lalu membuat lempengan besi dan jalinan komponen kimia tiba-tiba benar-benar punya otak yang berpikir sendiri. Di balik alat-alat cerdas tersebut, tetap saja kunci utamanya adalah algoritma—rangkaian ribuan bahasa perintah berupa kode pemograman—yang berasal dari kreativitas manusia.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Artinya, ada banyak pekerjaan konvensional memang bakal tergantikan oleh mesin dan robot. Namun, apakah mesin dan robot itu akan bekerja sesuai keinginan dan kebutuhan manusia tanpa menjadi risiko baru bagi kemanusiaan, kuncinya tetap ada di tangan, otak, imajinasi, batas etik, dan kreativitas manusia itu sendiri.

Kabar baiknya, kode-kode pemrograman yang menjadi penggerak dan landasan pengambilan keputusan mesin dan robot itu tak lagi harus disusun di ruang-ruang sempit kantor atau pabrikan. Internet dan pemrograman telah mengerutkan batas-batas definisi “bekerja” bahkan menegasikan ruang dan waktu lintas batas geografi.

Untuk mewujudkan mesin-mesin dan robot yang bekerja optimal menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin atau berisiko tinggi itu, para developer bisa berada di mana saja. Yang dibutuhkan adalah komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi, tanpa perlu nomor induk pegawai, laporan presensi, apalagi kehadiran tatap muka.

Konsep kerja era AI

Ruang-ruang coworking space juga bisa jadi pilihan lokasi kolaborasi bila memang diperlukan kolaborasi secara fisik. Sebagai catatan, coworking space bukan sekadar ruang kantor pengganti. Tak juga lokasi kerja dengan dukungan internet. Pilihan-pilihan yang ada memungkinkan pilihan yang personal sekali hingga yang sangat nyaman.

Join Our Newsletter


Bila bekerja adalah soal passion dan kegembiraan berkarya, ini pilihan yang dapat dipertimbangkan. Begitu pula bila pekerjaan butuh ruang sunyi penuh konsentrasi tanpa perlu basa-basi dengan orang sekitar. Termasuk menulis baris-baris pemrograman ini sembari berimajinasi membayangkan cara kerja otak dan badan manusia dalam menyelesaikan suatu pekerjaan agar dapat direplikasi oleh mesin dan robot.

Konsep-konsep bekerja di era kecerdasan buatan dan coworking space ini sudah merambah Indonesia, bukan cuma angan-angan karena baru ada di luar negeri. Komunitas-komunitas yang punya kiprah menggerakkan kemajuan mesin dan robot alias berkecimpung di dunia kecerdasan buatan pun sudah menyebar dari Bandung, Bali, Yogyakarta, dan tentu saja Jakarta.

Perubahan gaya kerja di era mesin dan robot adalah niscaya. Kalau kapasitas memang di atas batas rata-rata, tak ada batasan tembok kantor dan birokrasi kerja yang diperlukan lagi, bahkan jangan-jangan dari ruang-ruang kerja kolaborasi di luar kantor inilah segala rutinitas di tempat kerja konvensional berasal.

Baca juga: Startup Fintech dan Masa Depan UKM di Indonesia

Jadi, sebelum tertelan ketakutan bahwa kecerdasan buatan akan menghapus kesempatan manusia bekerja dan mendapatkan penghidupan, perlu juga untuk melihat dari sudut pandang lebih terang bahwa ada peluang besar hadir bersamanya.

Dalam bahasa Leonhard, kapasitas kemanusiaan yang pada akhirnya akan tetap memuliakan peran manusia di antara mesin dan robot, yang tak bisa digantikan oleh mesin dan robot secerdas apa pun. Wujudnya, antara lain berupa kreativitas, imajinasi, kompleksitas pengambilan keputusan yang tak sekadar berbasis logic tetapi memasukkan unsur seperti empati, serta batas-batas etik.

Selamat datang di era ketika ruang dan waktu menjadi semakin relatif.

Facebook Comments

Next Read

Wanita dan Tren Coworking di Indonesia Coworking space bertransformasi dengan demografi yang lebih spesifik, tidak hanya untuk pekerja lepas, tapi juga pekerja wanita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *