Untung - Rugi jika Menjadi Digital Nomad | Ubah Cara Kerjamu

Untung – Rugi jika Menjadi Digital Nomad

Untung Rugi Menjadi Digital Nomad

Beberapa hal yang wajib Anda perhatikan jika berencana mengubah gaya kerja menjadi digital nomad.

Jika Anda senang melakukan traveling ke berbagai belahan dunia sembari bekerja, peran digital nomad bisa menjadi profesi menarik. Namun, mengacu ke berbagai fakta, menjadi digital nomad tidak semudah yang dibayangkan. Penyebabnya karena tidak melulu soal kesenangan, tetapi juga jalan hidup yang menjadi pilihan.

 

Di Indonesia, kosakata digital nomad masih asing di telinga. Namun, di negara-negara maju, misalnya Amerika Serikat, Kanada, Inggris,dan Jerman, profesi ini menjadi salah satu pilihan yang bisa menghasilkan uang banyak. Menjadi digital nomad, ruang kerja Anda bukan di balik cubicle-cubicle meja, melainkan seluruh dunia.

Baca juga: Komunitas dan Industri 4.0 dalam Keseharian Kita

Pieter Levels, programer terkemuka asal Belanda, dalam blognya Levels.io, memprediksi bakal ada 1 miliar digital nomad di berbagai penjuru dunia pada 2035. Prediksi tersebut mengacu terhadap perkembangan profesi pekerja lepas yang saat ini bisa dibilang semakin banyak diminati bagi para milenial dalam dunia kerja.

Perkembangan kecepatan koneksi internet pun diperhatikan. Dalam blognya, Pieter menuliskan, pada 2015, kecepatan internet mencapai 100 megabytes, meski memang berbeda di tiap-tiap negara. Mengacu terhadap data yang dilansir Alcatel-Lucent, kecepatan internet pun nantinya diprediksi mencapai 100 gigabytes pada 2035.

Data World Economic Forum 2017 menarik dicermati. Berdasarkan penelitian tersebut, generasi milenial diklaim sebagai pekerja keras dan akan menjadi kelompok terbesar dalam golongan pekerja pada masa depan. Sebanyak 63 persen generasi milenial pun diketahui mengandalkan teknologi sebagai penunjang utama profesi mereka dalam dunia kerja.

Karena itu, wajar jika saat ini mulai banyak generasi millenial yang berprofesi sebagai pekerja lepas. Mereka tidak lagi butuh kantor atau bekerja dengan jam “tradisional” 9 to 5, tetapi lebih mengandalkan fleksibilitas dan mobilitas. Di titik inilah, peran digital nomad masuk menjadi salah satu bagian dalam dunia kerja para pekerja lepas tersebut.

Bertahan Lama?

CoHive berkesempatan berbincang dengan Matthew Karsten, pemilik akun Instagram @expertvagabond, digital nomad asal Texas, Amerika Serikat, untuk membahas apakah profesi tersebut cukup sustain jika dijadikan mata pencarian.

Menurut Matthew Karsten, menjadi digital nomad memang memiliki tantangan tersendiri. Tantangan tersebut, satu di antaranya adalah memikirkan cara meraih pendapatan di tengah kegiatan travelling ke berbagai negara. Untuk memulai bisnis digital dengan menjadi digital nomad juga ternyata tidak diperlukan dana besar.

Matthew Karsten mengungkapkan, dirinya sempat menjual beberapa harta pribadinya, termasuk mobil yang kemudian ditukarkan dengan sepeda, untuk keperluannya sehari-hari beraktivitas di AS. Dana dari hasil penjualan tersebut, kata pria yang awalnya berprofesi sebagai fotografer lepas itu, digunakan sebagai modal awal.

“Awalnya, saya traveling ke negara-negara yang biaya hidupnya murah. Misalnya, di negara-negara Amerika Tengah daripada saya harus tinggal di Amerika Serikat. Banyak digital nomad menetap di kota-kota, seperti Chiang Mai, Thailand, atau Bali, untuk menghemat biaya hidup saat mereka mengembangkan bisnisnya,” kata Matthew Karsten, kepada CoHive.

Salah satu sumber pendapatan terbesar berasal dari berbagai pengalaman berkunjung ke sejumlah negara yang ia tulis di dalam blognya. Ia mengaku mendapatkan tawaran dari beberapa perusahaan, mulai dari perusahaan agregator travel, Momondo, hingga American Express, yang berniat memasang iklan dalam blognya tersebut.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Bisnis tersebut kemudian semakin berkembang pesat saat Instagram mulai populer dalam dunia digital. Matthew Karsten tidak hanya menuliskan berbagai tips atau pengalamannya lewat blog lagi, tetapi juga dengan menjalani kerja sama lewat sejumlah jepretan foto yang ia abadikan di dalam akun Instragramnya tersebut.

Matthew Karsten mengungkapkan, salah satu hasil jepretannya ada yang dijual ke beberapa perusahaan travel besar, termasuk National Geographic. Oleh karena itu, Matthew Karsten pun dengan bangga menuliskan digital nomad dalam keterangan profil Instagram-nya yang kini diikuti lebih dari 150.000 followers tersebut.

“Sebenarnya bisnis ini tidak hanya dijalankan lewat satu cara saja. Saya meraih pendapatan dari pemasaran afiliasi, iklan website, dan proyek fotografi dengan sejumlah brand dan perusahaan travel. Selain itu, saya juga berbisnis dengan menjual e-book atau kursus online. Bahkan, beberapa orang, ada yang membuka public speaking. Jadi, ada banyak cara (meraih pendapatan dengan menjadi digital nomad),” tutur Matthew Karsten.

View this post on Instagram

My office today in Granada, #Spain.

A post shared by Matt Karsten | Expert Vagabond (@expertvagabond) on

Berdasar beberapa fakta di atas itulah, yang kemudian membuat Matthew Karsten giat menekuni profesi sebagai digital nomad. Profesi tersebut sebenarnya hanya direncanakan Matthew Karsten selama satu tahun saja. Namun, ia ternyata mampu bertahan lebih dari tujuh tahun hidup menjalani hidup sebagai digital nomad dengan berpetualang sembari bekerja.

“Bekerja remote akan semakin populer ke depannya karena fleksibilitas yang diberikannya kepada Anda, ditambah fakta perusahaan-perusahaan tidak perlu membayarkan pengeluaran tradisional seperti biaya ruang-ruang kantor. Jadi, menurut saya, akan ada banyak digital nomad pada masa depan,” tutur Matthew Karsten.

Bukan Tanpa Risiko

Dari pengalaman Matthew Karsten di atas, kiranya menjadi digital nomad terkesan menjadi pilihan profesi yang menarik dan menjanjikan. Apalagi, jika Anda menyukai kegiatan travelling karena kapan lagi bisa menyalurkan hobi sembari bekerja dan meraih pendapatan besar. Namun, ternyata ada banyak faktor yang memengaruhi sukses atau tidaknya berprofesi sebagai digital nomad.

Misalnya, seberapa teguh keinginan Anda menjalani profesi tersebut. Dari pengalaman Matthew Karsten, menjadi digital nomad tentunya tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia harus menjual berbagai harga benda hingga menekan pengeluaran sehari-hari demi mendapatkan modal menjalankan profesi tersebut.

“Tidak semua orang akan sukses saat memulai bisnis online. Jika Anda lihat, semua orang yang memulai bisnis restoran atau bisnis lainnya juga demikian. Jadi, tidak hanya mengenai bekerja remote, tetapi hanya soal memulai wirausaha. Memulai bisnis sendiri memang sangat sulit. Tidak semua orang bisa melakukannya. Ada banyak risiko dan kerja keras besar daripada apa yang banyak dipikirkan orang,” kata Matthew Karsten.

Join Our Newsletter


Belum lagi berbicara mengenai faktor keamanan jika berpergian ke negara-negara yang benar-benar baru. Sebagai penulis atau fotografer lepas, perspektif konten baru yang jarang orang lihat atau temui akan jauh lebih baik dibandingkan dengan konten-konten mainstream. Di sinilah, isu keamanan bisa menjadi persoalan krusial.

Anda bisa banyak bertemu dengan orang-orang baru saat melakukan travelling, namun bahaya pun tentunya berada di depan mata. Belum lagi bicara soal risiko kehilangan benda-benda yang Anda bawa, misalnya, laptop. Jika demikian, persoalan pun akan semakin besar karena tentunya berbagai data serta pekerjaan Anda berada di perangkat laptop tersebut.

Marina Janeiko, salah seorang digital nomad asal San Francisco, Amerika Serikat mengamini hal tersebut. Wanita yang kini berprofesi sebagai Head of Events & Community Winding Tree itu mengaku kalau menjadi digital nomad diperlukan dedikasi dan kemauan tinggi untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi saat bekerja sembari berpetualang.

“Hidup menjadi digital nomad perlu kerja keras dan dedikasi. Terkadang, Anda akan merasa kesepian dan mulai berpikir kalau Anda telah meninggalkan kenyamanan di rumah. Terkadang, Anda tidak mengerti dan tidak paham saat bertemu dengan orang lain di sekitar Anda,” kata Marina Janeiko, seperti dilansir HuffPost.

Terus Berkembang

Meski terdapat berbagai risiko yang mengintai, digital nomad ternyata masih menjadi salah satu alternatif profesi dunia kerja menjanjikan pada masa depan. Hal ini juga diperkuat dengan data terbaru yang dirilis MBO Partners State of Independence Research Brief dalam hasil riset bertajuk “Digital Nomadism: A Rising Trend”. Data tersebut menyebutkan, saat ini sekitar 4,8 juta orang di Amerika Serikat telah mengklaim dirinya sebagai digital nomad.

Sementara itu, dalam dunia para pekerja di negara Paman Sam, 27 persen di antaranya mengaku mungkin segera akan menjadi digital nomad dalam 2-3 tahun mendatang, sedangkan 11 persen sisanya mengaku sedang mempertimbangkannya.

Baca juga: Coliving Jadi Tren Baru Setelah Coworking Space Menjamur

Data tersebut pun mengungkapkan, digital nomad tidak hanya didominasi lelaki muda, karena 31 persen di antaranya merupakan wanita, dan 54 persen berumur lebih dari 38 tahun. Terkait penghasilan, dilaporkan 38 persen digital nomad mampu meraup pendapatan mulai 10.000 dolar AS hingga lebih dari 75.000 dolar AS per tahun.

Dari data tersebut bisa diambil kesimpulan menarik karena makin banyaknya orang yang mengerti nilai-nilai gaya baru dalam dunia kerja, yang satu di antaranya digital nomad. Di Indonesia, gaya baru bekerja itu juga terlihat dari banyaknya perusahaan yang menawarkan fleksibelitas untuk menarik minat calon karyawan. Demikian pula dengan menjamurnya kehadiran coworking space.

Memang tidak semua orang akan menjadi digital nomad pada masa depan. Satu hal pasti, mengacu berbagai data di atas, para digital nomad akan terus bertahan untuk mengembangkan bisnisnya di tengah berbagai macam tipe pekerjaan dalam era digitalitasi seperti sekarang.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *