Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu | Ubah Cara Kerjamu

Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

Berbagai masalah soal produktivitas dan jam kerja dianggap menjadi satu di antara pemicu kemunculan konsep pola kerja selama 4 hari dalam seminggu.

Persoalan jam kerja sempat menjadi topik hangat di berbagai belahan dunia. Hal tersebut berkaitan dengan pertimbangan masalah kesehatan dan produktivitas pekerja yang bergelut dengan rutinitas perkantoran mulai dari Senin hingga Jumat.

Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengungkapkan, lebih dari 400 juta pekerja di dunia menghabiskan waktu kerja 49 jam atau lebih per minggu. Itu artinya, total jumlah pekerja tetap meluangkan waktu kurang lebih sembilan jam di luar jam kerja normal yang diterapkan di sejumlah perusahaan.

Satu di antara contoh kasus yang sempat menjadi perhatian serius adalah tewasnya jurnalis wanita stasiun televisi Jepang NHK pada 2013. Reporter politik berusia 31 tahun tersebut dikabarkan meninggal dunia karena gagal jantung akibat bekerja dalam durasi yang terlalu lama setelah mengambil lembur 159 jam selama sebulan.

Baca juga: Produktivitas Vs Komunitas dalam Coworking Space

CNN pernah melaporkan hasil studi yang menyatakan, pekerjaan dengan jadwal lembur mampu meningkatkan bahaya cedera 61 persen lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pekerjaan tanpa lembur. Studi ini mengacu terhadap analisis catatan pekerjaan di Amerika Serikat selama 13 tahun terakhir.

Ilustrasinya hasil studi itu pun cukup menarik. Misalnya, jika Anda bangun pagi hari pada jam 8 dan masih terjaga hingga jam 1 pagi hari berikutnya, itu berarti Anda beraktivitas selama 17 jam penuh. Dalam kondisi tersebut, kinerja fisik tubuh Anda diklaim lebih buruk daripada saat Anda mengonsumsi konsentrasi alkohol dalam darah sebesar 0,05 persen.

Persentase itu merupakan level rata-rata yang diperoleh dari koresponden pria dengan berat badan 73 kilogram ketika dia meminum dua kaleng bir 335ml. Dari hasil studi ini, dapat dikatakan, gaya kerja Anda jika sering lembur tidaklah lebih baik dari gaya hidup orang yang gemar mengonsumsi alkohol tersebut.

Masalah kesehatan memang tidak hanya menyasar mereka yang sering bekerja di luar batas normal, karena tentunya akan berkaitan dengan jenis pekerjaan yang lebih menuntut bekerja lebih lama. Belum lagi bicara mengenai profesi-profesi yang riskan, seperti pekerja lepas hingga para jurnalis yang dituntut mobilitas tinggi.

Jadwal Kerja 4 Hari Per Minggu

Berbagai masalah soal jam kerja pada akhirnya menjadi salah satu pemicu kemunculan konsep pola kerja selama 4 hari dalam seminggu. Konsep ini sempat diuji coba perusahaan real estate asal Selandia Baru, Pepertual Guardian. Hasilnya positif, mengacu terhadap produktivitas dan kebahagiaan para karyawan di perusahaan tersebut.

Pepertual Guardian mengujicobakan pola kerja tersebut kepada total 240 karyawannya selama Maret hingga April 2017. Menurut artikel FastCompany.com, 78 persen karyawan perusahaan tersebut mampu mengelola kesimbangan kerja dan kehidupan pribadi, dan terjadi peningkatan 24 persen terkait produktivitas kerja.

“Apa yang kami lihat adalah peningkatan besar dalam hal keterlibatan dan kepuasan terhadap kerja yang mereka lakukan. Selain itu, peningkatan besar juga terlihat dalam niat para karyawan untuk terus bekerja dengan perusahaan dan kami tidak melihat penurunan produktivitas,” ujar Andrew Barnes, CEO Pepertual Guardian.

Baca juga: Untung – Rugi jika Menjadi Digital Nomad

Sebelum Pepertual Guardian, pola kerja 4 hari selama seminggu juga pernah diterapkan perusahaan software terkemuka di Chicago, AS, Basecamp. Ryan Carson, CEO perusahaan tersebut mengatakan, karyawannya semakin fokus dan kualitas kerja semakin meningkat setelah menerapkan pola tersebut.

Menurut dia, salah satu keuntungan lain pola kerja empat hari selama seminggu adalah menghindari stres berlebihan dan mengurangi jumlah karyawan yang izin karena “sakit”. Bahkan, Ryan Carson juga menilai, perusahaan bisa mendapatkan hal positif dalam hal penggunaan energi listrik dengan menerapkan pola tersebut.

Psikolog, Dr Danielle Forshee, juga ikut mengomentari perihal uji coba pola kerja empat hari selama minggu. Menurut dia, hal tersebut memang cukup positif karena, otak manusia tidak bisa bekerja maksimal setelah dituntut kerja lebih dari 40 jam selama minggu, atau dengan lima hari kerja.

“Kita bisa melakukan hal terbaik jika sudah melakukan istirahat yang cukup dan telah mengurus hal-hal pribadi dalam hidup kita. Jadi, wajar jika penurunan kerja biasanya akan terjadi pada akhir pekan (pada pola kerja 5 hari dalam satu minggu),” kata Danielle Forshee, seperti dilansir elitedaily.com edisi 23 Juli 2018.

Produktivitas Versus Kebahagiaan

Data hasil riset Pepertual Guardian kepada ratusan karyawannya kiranya menunjukkan fakta produktivitas para pekerja bisa meningkat dengan pola kerja empat hari selama seminggu. Namun, apakah konsep tersebut benar-benar bisa meningkatkan produktivitas pekerja secara maksimal jika melihat dari sisi para pekerjanya masing-masing?

Manajer Merge Design + Interactive, Marta Stefaniuk, dalam artikel Forbes, mengaku, sempat menjalani pola kerja empat hari selama seminggu. Ia menilai, salah satu keuntungan besar dari pola tersebut adalah pekerja bisa memaksimalkan keseimbangan hidup dan kerja, yang terkadang menjadi faktor penting dalam dunia kerja.

Join Our Newsletter


“Orang-orang datang ke kantor dan bekerja. Semua bekerja secara cepat dan efektif agar bisa merasakan hari libur pada Jumat. Praktik membuang waktu dengan mengobrol yang tidak penting berkurang dan makin sedikit orang yang datang terlambat. Rapat berjalan lebih efektif dengan pola kerja ini,” kata Marta Stefaniuk.

Hal senada diungkapkan Zondra Wilson, CEO Blu Skin Care, salah satu perusahaan kosmetik di Los Angeles. Namun, menurut dia, yang perlu ditekankan adalah esensi pengurangan jam kerja tersebut bagi kehidupan para pekerjanya. Artinya, bukan berarti dengan waktu jam kerja lebih dapat mengganggu produktivitas kerja.

Sebagai contoh, mengacu terhadap data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), di Belanda rata-rata orang bekerja 29 jam per pekan. Sedangkan, orang-orang di Denmark dan Norwedia bekerja selama 33 jam selama seminggu. Hasilnya, masyarakat di negara-negara Skandinavia justru lebih bahagia karena menemukan keseimbangan hidup dan kerja, serta tingkat stresnya lebih rendah.

Potensi pada Masa Depan?

Potensi pola kerja empat hari seminggu bisa dilihat dari maraknya para pekerja on-demand workers di tengah era gig economy. Para freelancer yang harus berkutat dengan berbagai tuntutan klien saat bekerja, misalnya. Penelitian terbaru yang dipimpin Alex J. Wood dari Oxford Internet Institute, mengungkapkan, “algoritma” pemberian tugas dari klien menjadi pendorong kuat kerja lembur di kalangan para pekerja lepas.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Pengendara transportasi online juga bisa dijadikan contoh. Mereka terkadang bekerja hingga larut malam demi mencari bonus-bonus poin yang disediakan perusahaan. Kondisi ini kiranya hampir terjadi di negara-negara berkembang, yang masih mencari cara terbaik dalam mengantisipasi perubahan di era digitalisasi, termasuk dunia kerja.

Bicara soal penggunaan pola kerja empat hari selama seminggu pada akhirnya memang akan menyesuaikan kebutuhan perusahaan itu sendiri. Tidak mungkin pola kerja tersebut diterapkan di perusahaan yang masih minim karyawan. Penyesuaian jam kerja normal tetaplah diperlukan agar workflow perusahaan berjalan dengan baik.

Konsep jam kerja ideal bisa bermanfaat jika dikembangkan dengan baik ke depannya. Hal tersebut dapat menjadi penunjang berbagai perubahan, baik dari sisi ekonomi negara, gaya hidup masyarakat, hingga cara kerja kita.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *