Menakar Napas Startup di Indonesia | Ubah Cara Kerjamu

Menakar Napas Startup di Indonesia

Menakar Napas Startup di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir startup berkembang pesat. Namun, menurut beberapa data anyar, benarkah startup saat ini mulai kehabisan napas?

Startup alias perusahaan rintisan baru pernah muncul bak jamur di musim hujan di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia. Namun, laju pertumbuhan kemunculan startup baru kemudian melambat selewat 2015. Sejumlah data dan tren dapat dipakai sebagai penakar napas startup pada kondisi ekonomi saat ini, termasuk peluang dan tantangannya.

Di Indonesia, maraknya startup tergambar antara lain dalamStartup Ranking yang dirilis pada 2018. Laporan itu menyebut, Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara di dunia dengan jumlah startup terbanyak di dunia. Per Februari 2018, Indonesia menempati peringkat keempat, di bawah Amerika Serikat, India, dan Inggris.

Baca juga: Baby Boomers: Bisakah Survive di Coworking Space?

Namun, venture capital lokal East Ventures pada 2017 menengarai ada perlambatan pertumbuhan startup. Lembaga ini menyebut, jumlah startup baru di Indonesia pada semester pertama tahun itu turun 23 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Tren tersebut ditengarai sejalan dengan berkurangnya transaksi pendanaan pada tahap awal. Ini diduga menjadi alasan para konseptor usaha rintisan berpikir ulang untuk melanjutkan laju usahanya. Apakah ini berarti napas startup di Indonesia tidak akan panjang dan usaha rintisan mulai masuk fase menua?

Kilas balik napas startup global

Melihat ke belakang, gaung tren bisnis startup di Indonesia mulai terdengar lantang pada 2012. Pada tahun itu, 168 usaha rintisan muncul dan jumlahnya melonjak dua kali lipat setahun berikutnya. Tren ini berlanjut dan puncaknya terjadi pada 2015, ketika terdata muncul 367 startup baru.

Namun, sejak itu tak pernah ada lagi lonjakan angka-angka penanda kehadiran usaha rintisan baru. Sedikit kabar penenang, fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia. Tren penurunan pertumbuhan usaha rintisan juga melanda negara-negara maju. Amerika Serikat yang pernah menempatkan startup sebagai penopang penting ekonomi pun mengalami hal serupa.

Data yang dirangkum dari Quartz mengacu pada Bureau Labor of Statistics, misalnya, menyatakan bahwa saat ini startup sedang berada pada masa sulit pertumbuhan. Indikatornya dilihat dari proporsi usaha rintisan berusia maksimal dua tahun terhadap total perusahaan di sana.

Baca juga: Bagaimana Perkembangan Coworking Space di Indonesia?

Bila pada 1985 tercatat usaha rintisan berusia maksimal dua tahun adalah 13 persen total perusahaan di Amerika Serikat, pada 2014 proporsinya susut menjadi delapan persen. Sudah begitu, minat orang untuk bekerja di perusahaan rintisan juga terpantau turun hingga tinggal lima persen pada 2010, dari semula bisa lebih dari sembilan persen responden.

Sejumlah analisis pun muncul menyikapi data-data di atas. Sejumlah kemungkinan penyebab dilacak. Salah satunya, perusahaan rintisan dinilai tak mampu melawan kedigdayaan bisnis perusahaan besar.

Di berbagai sektor industri, banyak orang mengaku lebih percaya kepada nama-nama besar pemain lama–dan konvensional–dibandingkan nama baru yang berasal dari usaha rintisan. Imbasnya, penjualan, laju bisnis, dan pertumbuhan usaha rintisan pun seret. Faktor lain yang terdeteksi adalah ide wirausaha yang menjadi modal usaha rintisan terkalahkan oleh iming-iming gaji besar dari perusahaan raksasa.

Join Our Newsletter


Napas tak tergantung jumlah

Ada kemungkinan kondisi dan alasan perlambatan kemunculan startup baru di negara-negara maju itulah yang sekarang sedang terjadi juga di Indonesia. Namun, orang sering lupa, startup dan usaha informal justru kerap kali menjadi penyelamat dan penopang ekonomi ketika ekonomi konvensional sedang buntu-buntunya untuk berkembang,

Dari usaha rintisan di bidang transportasi yang sekarang marak, misalnya, sekian banyak lapangan kerja terbuka ketika bahkan negara pun tak punya cukup kemampuan untuk menyediakannya. Tak hanya pekerjaan di sektor transportasi saja yang tiba-tiba menggeliat, tetapi juga usaha makanan-minuman dan logistik yang bersinergi dengan startup transportasi.

Sudah begitu, perlambatan di sisi pertumbuhan usaha rintisan baru sepertinya tergantikan dengan peningkatan dan pengembangan skala perusahaan rintisan yang sudah lebih dulu berdiri. Kabar terbaru, empat startup Indonesia sudah berlabel unicorn, kategori usaha rintisan dengan nilai valuasi di atas 1 miliar dolar AS. Padahal bila ditelisik, empat usaha ini pun belum benar-benar menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan lapisan sosial masyarakat, masih lebih terkonsentrasi di Ibu Kota dan kota-kota besar.

Baca juga: 5 Alasan Coworking Space Masih Akan Terus Diminati

Artinya, peluang di pusaran startup masih membentang luas. Pertumbuhan jumlah mungkin tak bisa lagi juga jadi ukuran penjuru pada kondisi saat ini. Justru, ketajaman kreativitas dan sasaran yang akan digarap agar ekonomi bangsa terus bergulir dari usaha ini yang kudu menjadi indikator sekaligus kunci ukuran bakal panjang umur atau tidaknya usaha rintisan.

Lagi pula, sejumlah inisiasi mulai dari pemerintah, perusahaan besar, hingga ketersediaan coworking space untuk kolaborasi yang sejalan dengan semangat usaha rintisan pun makin banyak. Barangkali sudah tiba waktunya fokus jiwa-jiwa muda usahawan tak semata membuat usaha baru tetapi juga mengoptimalkan peluang-peluang yang dapat digarap–termasuk lewat sinergi dan kolaborasi–dari usaha-usaha rintisan yang sudah berjalan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *