Menilik Masa Depan Para Gig Workers | Ubah Cara Kerjamu

Menilik Masa Depan Para Gig Workers

Menilik masa depan gig workers

Ketika seluruh dunia berjuang memperebutkan mayoritas pekerjaan yang sama, apa yang terjadi dalam kehidupan para pekerja yang tergabung dalam kategori gig worker?

Ketika seluruh dunia berjuang memperebutkan mayoritas pekerjaan yang sama, apa yang terjadi dalam kehidupan para pekerja? Pertanyaan itu kiranya dapat kita analogikan dalam kondisi perekonomian global seperti sekarang yang sejatinya tentu saja tidak bisa terlepaskan dari sedemikian kencangnya arus digitalisasi.

 

Kita bisa melihat arus digitalisasi dalam perekonomian global itu dengan berbagai kemunculan e-commerce yang telah memegang peranan penting untuk pertumbuhan PDB di negara-negara berkembang. Wakil Direktur Departemen Perdagangan dan Industri Singapura Chan Kah Mei, juga memprediksi perekonomian digital akan menyumbang sekitar 1-2 dolar triliun tambahan output ekonomi dunia pada 2020.

Baca juga: Untung – Rugi jika Menjadi Digital Nomad

Oleh karena itu, di tengah penetrasi internet di seluruh dunia yang hampir 50 persen, ekonomi digital mampu menjadi primadona dan menciptakan peluang baru pasar. Tidak hanya bagi para pelaku bisnis, melainkan juga kehidupan para pekerja.

Hal ini bisa dilihat dari tren pekerja lepas yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut hasil survei Freelancers Union of Amerika (FUA), pada 2017, tercatat sebanyak 55 persen para freelancer di negeri Paman Sam terus meningkatkan kemampuan teknisnya di dalam berbagai bidang untuk mengakomodasi persaingan di tengah era digitalisasi.

Sejumlah perusahaan pun mulai banyak yang mencoba strategi baru dalam upaya mempekerjakan karyawan. Di titik inilah muncul istilah gig economy, yang merupakan kondisi ketika perusahaan mencari staf berstatus freelancer untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu saja dengan cara online demi efisiensi waktu dan usaha.

Artikel Forbes edisi 31 Agustus 2018, mengungkapkan, 57 juta orang atau 36 persen dari total pekerja di Amerika Serikat adalah bagian dari gig economy. Perusahaan yang terlibat pun tidak hanya yang berstatus startup, melainkan perusahaan-perusahaan dengan nama besar, mulai dari Uber, Amazon Mechanical Turk, hingga Ebay.

Gig Workers

Perkembangan tersebut pada akhirnya pula memunculkan istilah gig workers atau bisa disebut juga on-demand workers. Mereka bukan seperti pekerja kantoran tradisional yang biasa bekerja 9-5, melainkan orang-orang yang bekerja secara sesuai kebutuhan perusahaan yang masuk ke dalam ruang lingkup gig economy.

Sederhananya, menurut Louis Hyman, Direktur Cornell’s Future Work, para gig workers berkembang pesat di Amerika Serikat mengacu terhadap anggapan, pekerjaan utama bisa mengatasi sebagian besar pengeluaran dan dapat diandalkan dalam kehidupan, sekarang tidak berlaku lagi bagi para pekerja di Amerika Serikat.”

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Selain itu, perusahaan pun mendapatkan keuntungan dari pola pikir para gig workers saat membutuhkan staf tambahan untuk menjalani proyek dengan jangka waktu tertentu. Samsung, misalnya, yang sering mencari pekerja bidang TI, designer, hingga marketing, dari platform on-demand workers, seperti PeoplePerHour dan UpWork.

Head of On Demand Talent Samsung, Cathleen Nilson, dalam artikel Marketers edisi 30 Agustus 2017, mengungkapkan, perusahaannya mendapatkan benefit dari upaya mencari gig worker di platform online. Menurut dia, selama setahun menggunakan strategi tersebut, Samsung mampu menghemat biaya perekrutan 64 persen, dan waktu administratif merekrut pekerja-pekerja reguler pun berkurang sebanyak 64 persen.

Di Indonesia, praktik gig economy dengan turunannya berupa gig workers atau on-demand workers tanpa disadari juga kiranya sudah berkembang. Hal ini berkaitan erat dengan arus digitalisasi yang telah merasuk dalam seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Menurut artikel Bloomberg edisi 6 Agustus 2018, lebih dari 130 juta orang di berbagai pelosok Indonesia tercatat telah “online”, yang sebagian besar aktivitas tersebut berasal dari smartphone mereka. Padahal, menurut data dalam artikel tersebut, 10 tahun lalu tercatat hanya 2 juta orang yang aktif menggunakan internet di Indonesia.

Join Our Newsletter


Masa Depan

Menariknya praktek gig economy di Indonesia tidak hanya merasuk dalam dunia para milenial. Heru Sishandito, misalnya. Mantan pekerja konstruksi yang menjadi pengemudi Grab Bike tersebut mengaku menyukai bekerja sebagai gig worker mempertimbangkan fleksibilitas, meski penghasilannya turun 40 persen.

“Di perusahaan konstruksi tentu bagus karena saya mendapatkan gaji tetap setiap bulannya. Namun, sebagai pengemudi Grab, semuanya bergantung terhadap saya,” kata Heru Sishandito, yang sudah berusia 58 tahun.

Bagi Heru Sishandito, yang sudah berada di “usia senja” mungkin bekerja sebagai gig worker tidak terlalu menjadi masalah besar. Namun, pertanyaannya, bagaimana masa depan para milenial yang masih berada di usia produktif berkecimpung menjadi gig workers?

TJ McCue, dalam artikel Forbes, menilai ada dua tipe gig workers. Pertama tipe “independen”, yang biasanya memiliki “bos” saat bertugas, dan tipe “kontingen”, yang bekerja berkelompok di perusahaan tertentu. Tipe kedua kiranya sama seperti pekerja reguler, namun bedanya hanya di fasilitas dan benefit yang mereka dapatkan.

Baca juga: Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

Dari kedua tipe gig workers tersebut, fleksibiltas dalam bekerja pun menjadi daya tarik utama, khususnya bagi anak-anak muda yang berminat hidup tanpa terikat budaya kantor, yang sering mendatangi coworking space. Mereka akan terus bekerja keras mencari cara mengasah kemampuannya agar mendapat “klien” di tengah era digitalisasi yang akan terus berkembang.

Hal ini pun akan semakin membuktikan, dengan maraknya model bisnis berbasis teknologi seperti sekarang, perubahan itu tidak hanya terjadi di ruang lingkup keseharian masyarakat, tetapi juga para pekerja. Di titik inilah para gig workers atau on-demand workers bisa menggantungkan harapan hidup mereka dalam dunia kerja.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *