Mesin Cerdas Merajalela, Manusia Ada di Mana dan Harus Bagaimana? | Ubah Cara Kerjamu

Mesin Cerdas Merajalela, Manusia Ada di Mana dan Harus Bagaimana?

Mesin Cerdas Merajalela, Manusia Ada di Mana dan Harus Bagaimana?

Di tengah gempuran mesin cerdas pada era industri 4.0, bagaimana dengan nasib para manusia yang berkecimpung dalam dunia kerja?

Era industri 4.0 bisa dibilang cukup menarik apabila dilihat lugas-lugas saja. Otomatisasi yang jadi salah satu kata kunci penting dari era ini terbayang berpotensi menggusur peran orang dalam banyak pekerjaan di dunia.

Dengan bantuan mesin dan 170 pekerja, per hari kami mampu menghasilkan 66.000 pon (sekitar 30.000 kg) kacang mede, sementara dulu kami hanya bisa memproduksi 2.000 pon (sekitar 907 kg) saat dikerjakan manual oleh 2.000 orang.”

Komparasi data di atas ada dalam video dan artikel Wall Street Journal edisi 1 Desember 2017 tentang kejatuhan India sebagai penguasa industri mede dunia selama berdekade-dekade. Usaha turun-temurun yang digarap manual pakai tangan itu kolaps karena kalah bersaing dengan efisiensi industri serupa di Vietnam yang memakai mesin dan robot.

Baca juga: Menilik Masa Depan Para Gig Workers

Fakta itu juga menunjukkan kedahsyatan teknologi otomasi dalam soal produktivitas. Efisiensi produksi pun menjadi hal sangat krusial yang mau tidak mau diperhatikan secara serius demi masa depan perusahaan. Di titik ini, peran mesin bisa diandalkan sebagai upaya pendukung perkembangan teknologi 4.0.

Mesin cerdas di segala lini

Mesin memang dirancang punya kemampuan presisi dalam bekerja. Mereka tidak akan pernah merasa capek, tidak pula perlu mengusap keringat, tidak akan terganggu juga ketika ada orang tampan atau cantik melintas di depan muka.

Ada banyak pekerjaan—terutama yang bersifat rutin dan berulang—bakal digantikan mesin karena ciri itu. Pekerjaan pergudangan, misalnya, dari pendataan, pemilahan, hingga pengepakan untuk pengiriman sudah bisa digarap mesin.

Gudang Alibaba di China adalah salah satu contoh penerapan teknologi otomasi dan robot yang nyaris sepenuhnya tak membutuhkan tenaga kerja manusia. Di balik mesin dan robot ini ada teknologi cerdas yang memungkinkannya menggantikan kerja manusia.

Teknologi cerdas juga makin berkembang dengan algoritma kecerdasan buatan (AI). Algoritma-algoritma komputasi tersebut mempelajari cara kerja manusia dan mereplikasinya dengan tingkat presisi dan efisiensi jauh lebih tinggi. Peralatan-peralatan baru lalu muncul untuk menggantikan fungsi tubuh dan bahkan panca indera manusia.

Pekerjaan dari menyapu di rumah sampai merakit pesawat terbang akan gampang saja digarap robot-robot ini. Urusan menyalakan dan menghidupkan lampu sudah bisa otomatis dilakukan speaker cerdas yang sama-sama “cuma” alat.

Manusia lalu ke mana dan bekerja apa?

Harapan cerah malah datang dari salah satu petinggi Amazon Web Service (AWS) yang notabene adalah perusahaan di balik banyak lompatan-lompatan teknologi robotik dan mesin cerdas. Menurut dia, pembeda terbesar adalah kreativitas.

Baca juga: Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

“Saya percaya, kreativitas manusia tak akan benar-benar terkejar teknologi,” kata Vice President of Machine Learning Amazon Web Services (AWS) Swami Sivasubramanian, seperti dikutip Kompas.com pada November 2017.

Swami pun justru berpendapat tantangan dari kehadiran mesin cerdas dan robot-robot dalam industri akan membuat manusia makin kreatif. “Kemajuan teknologi ini semestinya (hanya) membuat manusia makin kreatif, tak lagi semata mengerjakan pekerjaan rutin,” kata Swami.

Ada juga Gerd Leonhard yang lebih jauh membahas soal peluang manusia di tengah kerumunan robot dan mesin cerdas. Dia menulis buku yang khusus membahas soal itu, berjudul Technology vs Humanisme. Kreativitas dan hal-hal manusiawi seperti intuisi, kurasi, pemilahan ide, etika, empati, dan emosi, adalah hal-hal yang kata Leonhard tidak akan pernah dapat digantikan oleh mesin dan robot.

Leonhard memberikan clue juga soal menguji proyeksi seseorang atau bahkan perusahaan dapat bertahan di tengah gempuran teknologi. “Apa rencana Anda 5 tahun ke depan?” sebut dia, saat berbicara di Jakarta, Selasa (25/7/2017).

Kalau pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan rinci, Leonhard menyebut orang atau perusahaan harus mulai khawatir soal masa depannya.

Adaptasi cara kerja

Kehadiran mesin dan robot memang butuh adaptasi dari manusia yang bakal banyak tergeser perannya dalam roda kehidupan. “Tak ada kata lain selain adaptasi. Tapi percayalah, kreativitas manusia itu tidak terbatas,” ujar Swami.

Dari tren mesin cerdas dan robot untuk otomasi pun ada ruang lapang yang dapat menjadi peluang justru di tengah serbuan teknologi serba cerdas tersebut. Salah satunya adalah kebutuhan aplikasi untuk menghubungkan manusia dengan peralatan-peralatan cerdasnya itu sendiri.

Join Our Newsletter


Banyak alat cerdas juga harus dipastikan tidak malah membuat manusia menjadi sandera yang dikuasai robot—yang jangan-jangan malah tidak sadar bahwa dia adalah robot—seperti dalam film Extinction (2018), misalnya.

Memastikan batas-batas etis mesin dan robot juga adalah ranah manusia untuk menjaga dalam algoritma-algoritma ciptaannya. Sama halnya untuk memastikan kehadiran mesin dan robot tidak malah mengancam jiwa manusia.

Kabar baiknya, pekerjaan-pekerjaan untuk menghasilkan produk-produk seperti itu juga tak melulu harus digarap orang-orang kantoran. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini juga tak selalu cukup digarap satu orang sendirian.

Komunikasi dan kolaborasi dengan sesama developer aplikasi jadi jawabannya. Ruang-ruang kerja bersama yang tidak terbatasi tembok kantor dan jam kerja pun dapat jadi sarana mewujudkannya. Di Indonesia, kolaborasi-kolaborasi seperti ini sudah pula bermunculan. Komunitas developer sudah bertebaran dari Bali sampai Jakarta, termasuk di Yogyakarta dan Bandung.

Coworking space bisa jadi hub yang mempertemukan personel dan bahkan komunitas untuk berkolaborasi, sehingga kehadiran mereka benar-benar dapat berkontribusi bagi roda ekonomi. Jangan salah juga, coworking space tak cuma bisa jadi tempat ketemu, lokasi kerja yang bukan di rumah dan kantor, atau semata fasilitas kerja termasuk jaringan internet ngebut.

Baca juga: Mengintip Peluang dari Serbuan Teknologi Kecerdasan Buatan

Tempat ini bisa juga menjadi awal dari perusahaan rintisan, yang itu bukan lagi wacana karena sudah berjalan dan terjadi. Dengan tantangan dan pola relasi di era industri 4.0 dan model kerja di coworking space perubahan adalah kepastian dalam cara kerja pada masa depan.

Tak ada sekat meja dan tembok kantor yang kaku, itu satu hal. Yang lain, cukup sudah urusan pangkat dan struktur yang membatasi inovasi. Fleksibilitas waktu bisa diatur dan ditata sendiri, tanpa harus berurusan dengan kemacetan orang-orang berombongan berangkat kerja.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *