Siapkah Generasi Millennial Menghadapi Tantangan Industri 4.0? | Ubah Cara Kerjamu

Siapkah Generasi Millennial Menghadapi Tantangan Industri 4.0?

Revolusi industri 4.0 dan millennial

Apakah berbagai inovasi yang hadir saat ini benar-benar membuat generasi millennial dapat beradaptasi dengan baik di tengah era industri 4.0?

Teknologi dalam revolusi industri 4.0 dan generasi milenial bisa dibilang cukup bersahabat. Berbagai inovasi yang hadir dari teknologi tersebut bertemu dengan karakter milenial yang menyukai hal-hal baru. Dari anggapan di atas, apakah benar-benar membuat generasi millennial dapat beradaptasi dengan baik di tengah era industri 4.0?

Hasil survei Deloitte bertajuk Millennial Survey 2018 memaparkan fakta, para pekerja muda—yang saat ini didominasi generasi milenial—di berbagai belahan dunia sebenarnya tidak yakin dengan kemampuan mereka beradaptasi dengan berbagai teknologi dalam industri 4.0.

Baca juga: Mesin Cerdas Merajalela, Manusia Ada di Mana dan Harus Bagaimana?

Fakta itu bukan berarti generasi milenial pesimistis akan kehadiran industri 4.0. Hampir setengah total responden survei tersebut mengaku yakin industri 4.0 akan memengaruhi dunia kerja dan memberikan mereka opsi untuk lebih fokus serta kreativitas. Hanya 17 persen milenial dan 20 persen dari Generasi Z yang menganggap kehadiran industri 4.0 tersebut dapat menghilangkan kesempatan luas mereka bekerja.

Kebanyakan responden menyatakan, kekhawatiran mereka lebih kepada siap atau tidaknya menyambut berbagai perubahan yang akan hadir dalam revolusi industri 4.0. Hanya 36 persen milenial yang mengaku yakin karena memiliki kemampuan dan pengetahuan cukup, sementara sisanya 11 persen mengaku kurang mempunyai pengetahuan dan kemampuan cukup untuk bersaing dalam kondisi tersebut.

Para Milenial di Indonesia Indonesia pun kurang lebih mengalami kondisi yang sama. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017 memaparkan hampir separuh pengguna teknologi internet di Indonesia adalah milenial (49,52 persen). Menariknya, pengguna teknologi internet berdasar survei tersebut tercatat bukan hanya dinikmati orang-orang yang berada di perkotaan, karena penetrasi terbesar pengguna internet justru di Pulau Kalimantan (72 persen), sedangkan Pulau Jawa hanya 58 persen. 

Itu artinya, akses internet bisa dibilang cukup merata bagi para generasi milenial yang tercatat jumlahnya mencapai 34,45 persen dari total penduduk di Indonesia. Namun, apakah mereka semua sudah siap menyambut revolusi industri 4.0 yang penanda utamanya sering disebut-sebut mengacu perkembangan ekonomi digital, artificial intelligence (AI), big data, hingga Internet of Things (IoT)?

Tantangan sosial

Studi Universitas Oxford bertajuk The Future of Employment: How Susceptible are Jobs to Computerisation memaparkan data, 47 persen pekerjaan di Amerika Serikat akan mengalami risiko tinggi dari kehadiran komputerisasi dalam dunia kerja. Laporan World Economic Forum (WEF) berjudul The Future of Jobs: Employment, Skills and Workforce Strategy for the Fourth Industrial Revolution pada 2016 juga mengamini hal tersebut. 

Menurut WEF, tren kehilangan pekerjaan global antara 2015 hingga 2020 diprediksi akan mencapai 5,1 juta. Pekerjaan yang mengalami imbas terbesar akibat kehadiran revolusi industri 4.0 tersebut adalah bidang administrasi dan perkantoran. 

Sementara itu, data terbaru yang dirilis McKinsey Global Institute bertajuk Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation” (2017) memprediksi sekitar 800 juta pekerja di berbagai belahan dunia akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi robot dalam sejumlah industri pada 2030. Hal ini tentunya memunculkan kewaspadaan tersendiri karena sudah banyak contoh pergeseran lanskap lapangan kerja akibat revolusi industri 4.0. 

Baca juga: Baby Boomers: Bisakah Survive di Coworking Space?

Di Indonesia, misalnya, ketika Jasa Marga memberlakukan konsep e-toll pada akhir 2017, ada banyak yang berubah di dalam sistem di dalam karyawan. Menurut data PT Jasa Marga, sekitar 1.350 pekerja tol dialihkan ke jenis pekerjaan lain. Pengalihan pekerjaan itu tentunya membutuhkan pelatihan serta penyesuaian kompetisi sehingga pasti akan memunculkan penyaringan yang ketat. 

Presiden Cisco untuk Asia Tenggara, Naveen Menon, menilai Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling mengalami dampak dari pengalihan pekerjaan akibat industri 4.0. Hal tersebut karena catatan total 9,5 juta lapangan kerja yang saat ini terdapat di Indonesia yang merupakan paling tertinggi di Asia Tenggara. 

Oleh karena itu, jika tidak dipersiapkan dengan baik, revolusi industri 4.0 justru bisa menjadi ancaman serius karena usia produktif yang melekat pada generasi milenial—dan diperkirakan akan terus berkembangan seiring pertambahan demografi—berpotensi kontraproduktif jika dihadapkan fakta berkurangnya sejumlah lapangan pekerjaan. Milenial memang akrab dengan teknologi, namun pemanfaatannya sejauh ini dinilai belum maksimal karena masih sebatas mengisi waktu luang kehidupan sehari-hari. 

Meminjam pernyataan Presiden Joko Widodo dalam Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center, “Apakah revolusi industri ini sebuah peluang besar? Jawaban saya, iya kalau kita mempersiapkan, merencanakan, dan bisa mengantisipasi ini. Apakan revolusi 4.0 ini sebuah ancaman? Menurut saya jawabannya, iya dan tidak. Bisa iya bisa tidak, tergantung kita.”

Pengembangan bakat

Salah satu untuk mengatasi ketidaksiapan akan kehadiran revolusi industri 4.0 adalah dengan terus melakukan pengembangan bakat dan kemampuan. Bagi generasi milenial, hal ini cukup krusial karena di tengah percepatan kemajuan teknologi dalam revolusi industri 4.0, mau tidak mau talenta-talenta terbaiklah yang nantinya akan menjadi pemenang dalam setiap persaingan kerja di berbagai industri. 

Menurut hasil survei SurveyMonkey and Microsoft, tercatat 93 persen pekerja milenial menilai bisnis yang terus mengikuti perkembangan teknologi termutakhir merupakan salah satu faktor penting bagi mereka dalam memilih tempat kerja. Oleh karena itu, mau tidak mau, setiap milenial harus mengembangkan kemampuannya untuk memaksimalkan pengetahuan soal teknologi. 

Saat ini, setidaknya ada lima pilar yang menandakan perkembangan revolusi industri 4.0, yakni artificial intelligence, 3-D Printing, komputer cerdas, robot, dan Internet of Things (IoT). Para milennial mau tidak mau harus mengikuti perkembangan kelima pilar tersebut. Untuk masalah artificial intelligence, misalnya, yang memerlukan kemampuan baru untuk mempelajari proses dan cara kerja mesin, algoritma pemograman, dan bagaimana membuat data berdasarkan teknologi tersebut. 

Baca juga: Menakar Napas Startup di Indonesia

Bakat lainnya yang perlu diperhatikan oleh para milenial adalah kecerdasan emosional atau soft skill. Mengacu terhadap hasil survei Deloitte 2018 Millennial Survey, disebutkan ada tiga kecerdasan emosional yang perlu diperhatikan oleh para milenial agar dapat bersaing dalam dunia kerja era revolusi industri 4.0, yakni kemampuan interpersonal, kepercayaan diri dan motivasi, dan semangat kerja yang tinggi.

Riset yang dilakukan Linkedin pada awal 2018 juga menunjukkan fakta bahwa 57 persen pemimpin perusahaan besar di dunia, termasuk Sheryl Sandberg di Facebook dan Eric Schmidt di Google, cenderung lebih memilih karyawan yang memiliki kemampuan hard skillbiasa saja, namun kemampuan soft skill-nya di atas rata-rata. Hal ini untuk mengakomodasi beberapa ruang lingkup kerja, misalnya, mau terus belajar, bekerja keras, mudah bekerja sama, dan memiliki hasrat besar di bidangnya. 

Pengembangan bakat penting lainnya adalah kreativitas. Di tengah revolusi industri 4.0, gempuran teknologi cerdas memang tidak dapat dielakkan lagi. Namun, kiranya mesin atau robot yang bekerja dalam bidang tersebut merupakan benda yang hanya dirancang dengan tujuan spesifik. Dengan kata lain, bisa dibilang kalau di balik alat-alat cerdas tersebut, tetap saja kunci utamanya adalah algoritma yang terdiri dari ribuan bahasa perintah berupa kode pemograman yang berasal dari kreativitas manusia. 

Memang benar akan ada banyak pekerjaan konvensional yang bakal tergantikan mesin dan robot. Untuk membatasi fungsi mesin dan robot tersebut, tentunya kreativitas manusia menjadi kunci dan batas etik yang memagari agar teknologi tersebut tidak menjadi risiko baru dalam dunia kerja. Selain itu, kreativitas manusia juga sangat diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan dalam revolusi industri 4.0 yang kiranya akan terus berubah seiring perkembangan jaman. 

Kesiapan perusahaan

Kesiapan perusahaan untuk menyambut tenaga kerja milenial dalam revolusi industri 4.0 juga cukup krusial. Dalam survei “Employee Engagement Among Millennials“, Dale Carnegie memaparkan fakta bahwa 9 persen milenial menolak terlibat lebih jauh dengan perusahaan tempatnya bekerja. Lebih besar lagi, sebanyak 66 persen pekerja milenial mengaku hanya terlibat sebagian di tempat kerjanya. 

Menurut Joshua Siregar, Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia, “Fakta ini tentunya sangat mengkhawatirkan karena pekerja milenial ini bisa berpindah dengan cepat menjadi tidak peduli (disengaged) jika perusahaan tidak cepat mengambil langkah antisipasi.”

Steve West, CEO Project insights dalam artikel Forbes edisi 28 Juni 2018, menyebutkan setidaknya ada dua area yang harus diperhatikan bagi setiap pemimpin perusahaan demi mengakomodasi harapan besar generasi milenial akan kehadiran revolusi industri 4.0. Pertama adalah dengan memberikan edukasi. Hanya saja, perlu diperhatikan pemberian edukasi tersebut sebaiknya tidak lagi dengan metode tradisional lewat kelas-kelas kuliah karena dianggap kuno bagi milenial yang bisa mengakses berbagai informasi di internet setiap hari. 

Dengan perkembangan solusi teknologi e-learning, pemimpin perusahaan bisa memberikan pelatihan melalui saluran yang progresif dan hemat biaya, seperti Learning Managemen System yang mulai marak digunakan untuk memberikan materi-materi pembelajaran, podcast, hingga video online yang bisa diakses di mana saja dan kapan pun. 

Baca juga: Menilik Masa Depan Para Gig Workers

Kedua adalah komunikasi. Meskipun telepon dan email masih relevan dan digunakan, milenial dianggap lebih menyukai menggunakan hal-hal baru lewat berbagai saluran komunikasi. Riset PwC menyebutkan, generasi milenial juga berharap dapat berkomunikasi lewat media sosial, aplikasi chat, blog, hingga bertemu tatap muka untuk melakukan kolaborasi bertukar ide dan pemikiran. Tempat kerja yang menyediakan beberapa hal tersebut, menurut riset PwC, akan membuat para milenial lebih mudah berkomunikasi untuk meningkatkan produktivitas mereka. 

Hal tersebutlah yang kemudian membuat dinamika di tempat kerja berubah secara drastis. Sederhananya, ketika industri 4.0 mau tidak mau akan membuat generasi milenial lebih menguasai dan memahami perkembangan teknologi, setiap perusahaan juga wajib mengakomodasi hal tersebut agar dapat terus berkembang . Semua ini dilakukan demi menyokong para pekerja untuk tetap bertahan di tengah perkembangan revolusi industri 4.0 yang menyimpan banyak tantangan. 

Cek di sini jika ingin menikmati fasilitas coworking space yang disediakan oleh CoHive.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *