Pekerja Remote, Bisakah Atasi Risiko Kesepian dan Burnout?

Pekerja Remote, Bisakah Atasi Risiko Kesepian dan Burnout?

Remote workers

Bekerja remote menjadi salah satu alternatif bekerja pada era sekarang. Namun, bisakah bekerja dengan gaya tersebut dapat mengatasi risiko kesepian dan burnout?

Bekerja remote saat ini menjadi salah satu alternatif yang sering kita jumpai di beberapa kota besar. Pagi hari mengantar anak ke sekolah, kemudian lanjut bekerja secara remote di beberapa coworking space yang tersedia terkadang jadi pilihan bagi orang-orang yang menginginkan kerja secara fleksibel. Mereka tak lagi terikat aturan tradisional mesti datang ke kantor untuk melaksanakan tugas dan pekerjaannya.

Bagi orang yang lahir sebelum era generasi milenial, situasi tersebut memang tidak terbayangkan sebelumnya. Dulu, aktivitas bekerja tentunya terkait dengan stigma harus datang ke kantor dan mengerjakan pekerjaan hingga waktu jam kerja selesai. Di era sekarang, gaya tersebut dianggap sudah kuno karena sudah banyak studi yang menyebutkan produktivitas bisa dihasilkan di mana saja, tidak harus di kantor. 

Baca juga: Baby Boomers: Bisakah Survive di Coworking Space?

Hasil studi terbaru yang dilakukan International Workspace Group, misalnya. Berdasar penelitian hasil interview dengan 18.000 karyawan dari total 96 perusahaan internasional, ditemukan fakta bahwa 70 persen karyawan telah akrab dengan bekerja remote, setidaknya satu kali selama seminggu, dan 53 persen di antaranya bahkan menghabiskan hampir setengah pekan untuk bekerja di luar kantor mereka. 

Fakta ini menjadikan sejumlah perusahaan berbenah memperbaiki sistem kerja mereka dengan memasukkan opsi bekerja fleksibel dan remote. Bagi karyawan atau individu yang menjalankannya, opsi tersebut juga dianggap mampu memberikan benefit tersendiri. Satu di antaranya mengatasi rasa bosan dan kejenuhan bekerja di bilik-bilik meja kantor. 

Benefit lainnya juga menyangkut masalah finansial. Mengacu data Biro Ketenagakerjaan di Amerika Serikat, terungkap, rata-rata orang yang bekerja remote mampu menghemat 444 dolar AS untuk biaya bensin kendaraan dan menghabiskan sekitar 50 persen biaya makan siang lebih sedikit. Bagi yang sudah bekeluarga, penghematan biaya tersebut digunakan untuk keperluan anak, serta lebih mudah mengatur waktu bersama keluarga jika anak-anak mereka sedang tidak sekolah. 

Di Indonesia tidak jauh berbeda. Berdasar data Ipsos dari Australia, sekitar 34 persen pekerja di Indonesia telah memilih untuk menjadi pekerja remote. Indonesia juga menjadi negara kedua terbesar setelah India (56 persen) dalam hal telecommuting/remote worker. Kondisi pekerja saat ini yang dianggap cukup melek teknologi serta kesempatan bekerja remote yang diberikan oleh perusahaan menjadi faktor pendukung terbesar mengapa tingginya angka pekerja remote tersebut. 

Faktor lain yang menyebabkan tingginya sistem kerja remote adalah persoalan kemacetan yang sering ditemui di beberapa daerah, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Intensitas tinggi, ditambah dengan kemacetan lalu lintas tersebut, menurut hasil data Ipsos, menjadi salah satu alasan utama mengapa para pekerja akhirnya memutuskan bekerja secara remote dan tidak perlu datang ke kantor setiap hari.

Meski begitu, manfaat dan ketertarikan akan perubahan gaya kerja remote tentu bukan tanpa konsekuensi. Bekerja remote dan fleksibel kiranya juga memaparkan beberapa tantangan bagi para pekerja yang menjalankannya secara rutin. Tantangan pertama adalah burnout, atau kondisi kehilangan energi secara psikis maupun fisik, sedangkan lainnya adalah kesepian karena jauh dari rekan-rekan kerja di kantor. Lantas, bagaimana mengatasinya?

Burnout

Burnout menjadi salah satu risiko yang biasanya secara tidak diduga menghampiri para pekerja remote. Situasi sederhananya seperti ini, ketika ada sebuah perusahaan menetapkan peraturan boleh bekerja remote, setiap pekerja yang senang dengan kondisi tersebut tentunya sangat bersyukur kepada atasan-atasan mereka. 

Kondisi itu terkadang membuat setiap pekerja yang terlibat akan berusaha maksimal saat mengerjakan tugas-tugasnya agar produktivitas tetap terjaga hingga pada situasi yang tanpa didasari mereka justru akhirnya mengalami kelelahan. 

Hasil riset yang dilakukan Universitas Cranfield, Inggris berjudul “Doing More with Less? Flexible Working Practices and the Intensification of Work” menarik dicermati. Riset tersebut mengkaji konsekuensi tidak terduga dari penerapan bekerja secara fleksibel. 

Baca juga: Bekerja Cerdas Menggunakan Coworking Space

Dengan menggunakan teori wawancara, para peneliti menemukan fakta, karyawan biasanya merespons kebijakan atau kemampuan bekerja fleksibel dengan mengerahkan upaya tambahan saat mengerjakan tugasnya. Hal ini mereka lakukan untuk memberikan bukti kepada atasannya bahwa produktivitas mereka bisa tetap terjaga meski bekerja di luar kantor. 

Sayangnya, ada beberapa atasan menganggap hal tersebut sebagai “peluang” untuk memberikan pekerjaan tambahan bagi para karyawannya. Ujung-ujungnya, tugas karyawan tentu akan semakin banyak sehingga banyak pekerjaan yang akhirnya terbengkalai. Hal ini kemudian tentunya akan membuat karyawan merasa kelelahan yang amat sangat sehingga memunculkan burnout secara psikis dan fisik. 

Untuk menghindari situasi itu, sebaiknya para atasan yang membiarkan karyawannya bekerja remote perlu memeriksa secara detail apa yang sedang dikerjakan dan tidak melulu memberikan pekerjaan tambahan. Para atasan juga kiranya perlu tahu apa yang terjadi dengan karyawannya di luar pekerjaan mereka. Misalnya, dengan memberikan waktu luang untuk berlibur bersama keluarga jika ada karyawan yang terlihat sudah cukup kelelahaan akan rutinitas kerja. 

Saat ini, sejumlah atribut kerja keras bagi sejumlah pekerja masih seringkali mengacu terhadap situasi mereka bekerja lebih lama, menjawab email hingga larut malam, meluangkan waktu untuk bekerja di akhir pekan, tidak pernah liburan, hingga kurang waktu tidur. Analogi tersebut jika dibiarkan justru akan memperparah kondisi para pekerja yang akhirnya membuat kinerja mereka terus menurun. 

Untuk mengatasi persoalan di atas, perlu cara khusus. Misalnya, daripada meminta karyawan Anda mengurangi pekerjaan—yang terkadang beberapa di antara pekerja justru tidak suka jika tugas-tugasnya dikurangi—, sebaiknya Anda bisa mengatasinya dengan menjaga kesehatan mental karyawan secara lebih baik, yaitu dengan memberikan jatah berlibur atau waktu luang bersama keluarga mereka. 

Join Our Newsletter


Satu hal yang perlu diingat, pekerja remote akan lebih sulit didiagnosis saat mengalami burnout karena Anda tidak bisa terus memantau kondisi dan kerja mereka setiap hari. Oleh karena itu, pastikan Anda meluangkan waktu untuk berbicara dengan mereka dan segera berikan opsi terbaik agar mereka tidak mengalami kelelahan luar biasa. 

Kesepian

Mengacu terhadap penelitian State of Remote Work 2018, kesepian menjadi masalah terbesar bagi para pekerja remote. Meskipun bekerja sendirian—dalam arti sesungguhnya—, tidak menjadi salah satu alasan utama kesepian, setidaknya hal tersebut memiliki pengaruh signifikan. Menariknya, hasil penelitian lainnya menyebutkan perasaan kesepian saat bekerja bisa menjadi epidemi berbahaya bagi kesehatan psikis seseorang. 

Dalam acara konvensi tahunan ke-125 Asosiasi Psikolog Amerika Serikat, Doktor Julianne Holt-Lunstad dari Universitas Brigham Young, memaparkan data dari penelitian 148 studi dari total 308.849 peserta. Hasilnya mengungkapkan fakta menarik mengenai hubungan antara kondisi kesepian seseorang dan kematian dini. 

Dalam penelitian tersebut, menurut Julianne Holt-Lunstad, “Ada bukti kuat bahwa isolasi sosial dan kesepian secara signifikan meningkatkan risiko kematian dini dan besarnya risiko tersebut melebihi banyaknya indikator kesehatan lainnya.”

Bagi para atasan, salah satu cara mengatasi persoalan itu dengan menetapkan kewajiban datang ke kantor, setidaknya satu hari dalam seminggu untuk para pekerja remote. Berdasar hasil jejak pendapat Gallup, dari 9.917 karyawan senior yang diperkerjakan di Amerika Serikat tercatat, pekerja remote yang datang untuk bekerja di kantor, setidaknya sekali selama seminggu tingkat kebahagiannya sangat tinggi. 

Bagi mereka, meski mendapatkan kesempatan bekerja di luar, datang ke kantor dapat menjadi alat penyegaran akan rutinitas karena bisa bertemu dengan rekan dekat di kantor. Selain itu, para pekerja remote mendapat kesempatan untuk peluang kerja lainnya, mencakup mempelajari hal-hal baru.

Sementara itu, bagi pekerja remote yang benar-benar tidak bisa datang setiap minggu, para atasan bisa menyiapkan strategi khusus untuk mengumpulkan mereka bersama karyawan lainnya, setidaknya sebulan atau tiga bulan sekali. Strategi itu bisa berbentuk outing atau gathering

Pemimpin perusahaan Mountain Equipment Co-op, Joe Granato, menilai strategi tersebut perlu dilakukan karena perusahaan tidak bisa membiarkan para karyawannya bekerja remote tanpa interaksi tatap muka sama sekali dengan rekan-rekan satu kantornya. 

“Bertemu tatap muka penting untuk membangun hubungan yang berkualitas dalam dunia kerja. Mendapatkan kesempatan bersama-sama juga mampu meningkatkan kepercayaan dan komunikasi agar lebih baik. Ini adalah cara investasi yang bagus bagi karyawan yang sering bekerja remote,” kata Joe Granato.

Baca juga: Coworking Space dan Menjaga Keseimbangan Hidup dalam Bekerja

Pada akhirnya, bicara soal tren bekerja remote memang menghadirkan nuansa baru bagi Anda yang gemar akan fleksibilitas dalam bekerja. Namun, terlepas dari apa kebijakan para pemimpin di perusahaan, tuntutan perubahan gaya kerja tersebut mau tidak mau membuat Anda harus memikirkan strategi terbaik untuk mempertahankan pekerja-pekerja terbaik yang Anda punya. Opsi bekerja fleksibel sudah sering ditemui, hanya tinggal bagaimana memasangkannya dengan gaya managerial terbaik untuk membantu para pekerja remote dapat terus berkembang ke depannya. 

Anda bisa menikmati fasilitas yang disediakan CoHive jika ingin bekerja remote di sini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *