On-Demand Worker, Milenial, dan Plus Minusnya | Ubah Cara Kerjamu

On-Demand Worker, Milenial, dan Plus Minusnya

gig workers

On demand workers terus berkembang. Namun, bagaimana plus dan minus jika Anda tertarik mencoba profesi tersebut?

Tias Anita, seorang graphic designer sudah tiga kali berpindah-pindah tempat kerja sejak lulus kuliah pada 2015. Awalnya, ia selalu merasa pekerjaannya tak cocok. Namun, setelah ia evaluasi, itu ternyata bukan alasan sebenarnya. Yang terjadi, dia bosan berjam-jam berada di kantor.

Dari situ, Tias memutuskan untuk menjadi pekerja lepas atau sering dikenal dengan on-demand worker. Dengan pilihan ini, dia tak perlu tiap hari datang ke kantor.

Baca juga: Menilik Masa Depan Gig Workers di Indonesia

“Menjadi desainer itu butuh banyak ide. Pikiran mentok kalau hanya berdiam diri di kantor,” ujar Tias tiap kali ada yang bertanya alasan ia memutuskan menjadi pekerja lepas.

Sebagai pribadi, Tias termasuk orang yang introver dan tak banyak bicara. Network-nya juga belum terlalu banyak. Namun, situasi tersebut bukan akhir cerita, apalagi di era digital seperti sekarang.

Saat ini ada banyak aplikasi yang berperan sebagai penghubung antara pekerja lepas dan pemilik pekerjaan atau perusahaan yang butuh layanannya. Sebut saja buat contoh, Upwork dan Helpster. Meski aplikasi ini berlingkup global, ada banyak orang Indonesia yang menggunakannya.

Lewat aplikasi semacam itu, orang-orang seperti Tias dapat mempromosikan diri dan kemampuannya sekaligus menentukan rate layanan. Keuntungan dan kemudahan juga didapat pemilik pekerjaan atau perusahaan yang butuh layanan, dengan ketersediaan banyak pilihan tenaga kerja sesuai kebutuhan.

“Ya sekarang, kalau ada permintaan (kerja), baru saya kerjakan. Lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari mana saja,” ujar Tias.

Apa yang dilakukan Tias sebenarnya sudah punya istilah atau penyebutan, yaitu on demand worker. Di Indonesia, gaung istilahnya mungkin belum terlalu nyaring terdengar tetapi tanpa sadar sudah menjadi tren dan berkembang. Model kerja ini juga selaras dengan tren gig economy alias ekonomi yang memang bergantung pada pekerja dengan kontrak sementara, seperti sekarang.

Dalam konteks gig economy, keberadaan pekerja lepas atau freelance jadi lumrah adanya. Kecenderungan sekarang pun orang punya parameter sukses yang tak terbatas lagi pada nama besar perusahaan tempat kerja dan seberapa tinggi jabatan di kantor. Ukuran sukses beralih menjadi seberapa banyak karya dan pendapatan yang dihasilkan.

Pas buat generasi milenial

Forbes pernah mengulas tren yang telah terprediksi sejak 2013 itu. Pada 2030, tulis mereka, generasi milenial ditengarai tidak akan betah bekerja dengan model 9 to 5 seperti sekarang. Bagi generasi milenial yang kurang suka dengan hal-hal monoton dan basa-basi birokrasi,on-demand workers akan menjadi solusi.

Baca juga: Mesin Cerdas Merajalela, Manusia Ada di Mana dan Harus Bagaimana?

Bermula dari Amerika Serikat, tren ini pun menjadi bahan banyak kajian di negara tersebut. Riset Pew Research Center pada 2016, misalnya, menyimpulkan bahwa 8 persen orang dewasa di Amerika sudah menghasilkan uang lewat pekerjaan semacam itu. Industri yang dirambah juga beragam. Riset ini menyebut, faktor minimnya lapangan kerja formal juga menjadi pemicu tren on demand worker.

Dalam artikel Forbes dipaparkan pula bahwa dengan menjadi pekerja lepasan maka para pekerja dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai kemampuan, serta cocok jam kerja dan bayarannya, yang semuanya itu sudah transparan sejak awal penawaran kerja.

Hasilnya, para pekerja itu diyakini punya rasa percaya diri yang lebih tinggi sehingga kinerjanya lebih optimal. Mereka juga tidak segan terus mengasah kemampuannya agar skill meningkat sehingga semakin banyak tawaran pekerjaan datang. Model kerja ini juga diyakini menjadi peluang memperluas koneksi sosial.

Ada pun bagi perusahaan, tren on demand worker akan mendorong efisiensi. Biaya perekrutan yang mahal dan beban mempekerjakan seseorang secara tetap juga tak perlu lagi dipikirkan.

Plus minus

Namun, model kerja on demand worker di era gig economy seperti ini bukan tanpa risiko pula. Tias, misalnya, mengaku pekerjaannya yang tak tetap menjadikan ia tak punya patokan penghasilan per bulan.

Join Our Newsletter


“Pengaruhnya pada manajemen keuangan pribadi. Saya harus pintar mengaturnya karena penghasilan tidak tetap. Bulan lalu bisa dapat tiga kali lipat dari orang kantoran rata-rata, tapi belum tentu bulan ini bisa dapat segitu. Pernah suatu kali dalam sebulan saya tidak mendapat pekerjaan (freelance) sama sekali,” ujarnya.

Sudah begitu, pengaturan waktu yang dibebankan pada pekerjaan freelance yang ia lakoni kerap ada pada jam-jam yang biasanya merupakan waktu istirahat bagi kebanyakan orang.

“Karena dasarnya kebanyakan perusahaan yang mempekerjakan freelance menganggap orang seperti saya masih punya pekerjaan tetap makanya mereka biasanya memberi pekerjaan di akhir pekan atau malam hari,” tambah Tias.

Kondisi itu membuat ia jarang dapat berkumpul dengan keluarga atau menyempatkan waktu berkualitas dengan teman-temannya. Situs web hbr.org dalam tulisan What Motivates Gigs Economy Workers, menyebut alasan finansial sebagai faktor yang akan menjadi pembeda besar antara pekerja lepasan dan pekerja kantoran.

Baca juga: Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

Orientasi para on-demand worker ada pada seberapa banyak uang yang bisa didapat, tak seperti pekerja kantoran yang sudah jelas dan tetap pendapatan bulanannya. Pada akhirnya, pilihan bekerja seperti Tias atau tetap menjadi pekerjaan kantoran akan kembali pada masing-masing orang.

Namun, satu hal yang tidak akan didapatkan pekerja kantoran adalah peluang bekerja bahkan berkolaborasi di ruang-ruang kerja (coworking space). Tak cuma menawarkan fleksibelitas dan fasilitas yang layak untuk bekerja, ruang-ruang ini sejatinya juga wahana untuk mempertemukan orang-orang dengan minat yang beririsan, saling mengasah kemampuan, dan ujungnya adalah kolaborasi yang diyakini menjadi kunci menghadapi era-era ekonomi pada masa mendatang.

Anda bisa cek fasilitas coworking space yang disediakan CoHive di sini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *