Coworking Space dan Stereotipe Budaya Kerja Timur | Ubah Cara Kerjamu

Coworking Space dan Stereotipe Budaya Kerja Timur

coworking space dan budaya timur

Coworking space secara tidak langsung mulai mendobrak budaya kerja timur yang telah berlangsung dalam keseharian kita.

Budaya timur secara umum sering dipindai sebagai lingkungan konservatif. Tempat kerja di area ini bukan perkecualian. Definisi konservatif di ranah pekerjaan menjalar sampai soal ketidaklaziman bertanya secara terbuka dan jamaknya senioritas di lingkungan kerja sebagai penentu opini atau rujukan, tak sekadar tabu melontarkan kritik meski bagian dari pengembangan diri dan perusahaan.

Bukan pemandangan aneh ketika pegawai baru bertanya terlalu lugas justru dianggap mempermalukan pemimpin. Kritik untuk membuka ruang diskusi agar mendapatkan solusi yang lebih baik pun rentan dianggap sebagai ancaman terhadap kolega bahkan peminpin. Ujung-ujungnya, kreativitas, inovasi, pengembangan diri, dan produktivitas pun menjadi tumbal dari budaya tempat kerja semacam itu.

Baca juga: Menilik Masa Depan Gig Workers di Indonesia

Pola-pola semacam ini jelas tidak lagi selaras dengan sejumlah identifikasi generasi millenial berdasarkan berbagai kajian akademik dan riset. Generasi milenial dinilai cenderung haus pengembangan diri. Konsekuensinya, bertanya, adu argumentasi, serta keleluasaan berdiskusi tanpa halangan ukuran lama waktu kerja, menjadi gaya kerja mereka.

Salah kaprah yang kemudian mencuat adalah anak milenial susah diatur, semaunya, gampang bosan bekerja di satu tempat, suka membantah atasan, dan sederet stereotipe-stereotipe lengkap dengan konotasi negatifnya. Padahal, generasi millenial diperkirakan akan mendominasi pangsa tenaga kerja global, termasuk di Indonesia, dalam hitungan dua dekade ke depan.

Tren pekerja independen

Tantangan dari gaya kerja perkantoran konvensional dan cenderung konservatif itu juga menghadapi kenyataan lain dari dinamika kondisi perekonomian global. Biaya sewa kantor di perkotaan—termasuk di Jakarta yang melangit jadi tambahan persoalan ketika kinerja juga sudah tertahan oleh lambannya laju darah perekonomian. Menggaji pegawai tetap pun jadi tantangan tersendiri, terutama saat produktivitas tersendat.

Pilihan yang kemudian tersedia adalah menggenjot kinerja sembari mempertahankan loyalitas pegawai berkulitas atau menggunakan pekerja-pekerja lepas untuk memenuhi tuntutan produktivitas dan kinerja perusahaan. Pada pilihan pertama, budaya konservatif pun mulai disadari harus didobrak dengan salah satu alasannya adalah soal pasokan tenaga kerja yang memang sudah masanya semakin banyak berasal dari generasi milenial dengan segala cirinya itu.

Untuk pilihan kedua, perusahaan pengguna jasa tenaga kerja independen relatif tidak punya persoalan selama produktivitas dapat dipastikan terkejar. Tantangan justru dihadapi oleh para pekerja itu sendiri dalam menjalankan aktivitas kerjanya dalam situasi yang relatif bebas dari batasan sekat tembok, birokrasi, dan politik kantor.

Bekerja di rumah memang dapat menjadi pilihan lokasi kerja buat mereka yang bahkan terasa nyaman. Namun, fakta lapangan dan riset mendapati bekerja di rumah pada titik tertentu juga dapat menjadi persoalan.

Selain faktor bosan karena lingkungan dan pemandangan yang itu-itu saja, kurangnya interaksi dengan kolega kerja saat bekerja dari rumah juga ternyata dapat mengurangi produktivitas. Terlebih lagi buat para pekerja kreatif, kebuntuan ide sangat mungkin terjadi selama bekerja dari rumah.

Baca juga: Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Alternatif yang kemudian jamak diambil oleh para pekerja model ini adalah kafe. Sayangnya, tidak setiap tempat, yang pada dasarnya memang tidak dirancang untuk bekerja, itu menjadi tempat yang ideal. Entah karena keberagaman pengunjung yang tak jarang menghadirkan situasi canggung atau keriuhan yang menjadi distraksi, bisa pula dari fasilitas seperti internet yang tak cukup memadai.

Kantoran vs coworking space

Dari beragam kondisi di atas, keberadaan coworking space menjadi angin segar. Bagi perusahaan konvensional sekalipun, konsep tempat kerja yang diusung coworking space ini mendorong terobosan penciptaan iklim dan tata ruang kerja yang lebih egaliter, fleksibel, sekaligus mendorong kreativitas dan inovasi. Muncul kesadaran untuk mereduksi hal-hal konservatif yang kontraproduktif terhadap kinerja di lingkungan kerja.

Riset dari Universitas Michigan, misalnya, mendapati minat orang untuk beraktivitas di coworking space yang paling besar adalah untuk berinteraksi dengan beragam kapasitas orang di satu tempat tanpa embel-embel struktur birokrasi. Urutan berikutnya dari daftar alasan utama mereka adalah peluang-peluang acak yang dapat muncul dari interaksi itu, lalu keleluasaan berbagi pengetahuan selama sama-sama bekerja di situ.

Bagi entitas usaha rintisan (startup), alasan biaya memang menjadi salah satu faktor menjadikan coworking space sebagai base camp perusahaan. Biaya sewa yang fleksibel baik dari ukuran waktu pakai maupun luas dan fasilitasnya, jadi dasar pertimbangan. Namun, bagi pekerja, faktor-faktor yang pada akhirnya mendorong pengembangan diri yang ujung-ujungnya demi memperbesar peluang dan produktivitas-lah yang cenderung lebih menjadi alasannya.

Survei dari Deskmag misalnya, didapati 62 persen respondennya mengaku mengalami peningkatan standar kualitas kerja sejak memanfaatkan ruang-ruang kerja bersama ini. Lalu, survei yang sama mendapati 68 persen responden menyatakan lebih fokus bekerja di coworking space ini dibandingkan saat bekerja di ruang-ruang bersekat perkantoran konvensional.

Sharing economy

Perkembangan yang kemudian menggenapi tren penggunaan ruang kerja bersama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menghilangkan gaya-gaya kerja konservatif perkantoran adalah kehadiran konsep sharing economy. Riset dari Haworth menyebut, era ini ibarat badai yang sempurna dari revolusi industri keempat terhadap budaya kerja konservatif dan konvensional.

Fleksibilitas dan perubahan iklim kerja telah menjadi faktor penting untuk urusan penghidupan, baik itu di perusahaan maupun pekerja lepasan dan startup. Inovasi, sebut riset yang dilansir pada Oktober 2018 itu mencakup empat hal, yaitu terkait disrupsi, risiko, ruang, dan lokasi.

Join Our Newsletter


Disrupsi tempat kerja ini bicara soal toleransi, manajemen, atau mendorong disrupsi di lingkungan perusahaan menjadi keluaran yang mendisrupsi pasar. Risiko akan membahas soal pilihan inovasi perusahaan akan bakal terbuka atau tertutup.

Ada pun inovasi ruang terkait dengan peluang-peluang fleksibelitas kerja tidak melulu di kantor sembari memastikan relasi kerja dengan kolega tetap terjalin. Terakhir, inovasi soal lokasi kerja bakal menentukan pusat usaha mengandalkan infrastruktur di pusat kota atau sebaliknya harus membangun fasilitas baru di pinggir kota.

Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, inovasi-inovasi terkait tantangan perubahan budaya kerja tersebut setidaknya sudah mendapat jawaban berupa kehadiran coworking space. Riset di Amerika Serikat pun mendapati bahwa minat bekerja di ruang kerja bersama ini sejatinya juga mencuat dari kalangan pekerja kantoran.

Alasan minat pekerja kantoran pun tak beda jauh dari pertimbangan para pekerja lepas yang butuh interaksi tanpa sekat birokrasi untuk saling berbagi pengetahuan dan mengembangkan diri, yang diharapkan pada akhirnya mendatangkan peluang baru pula.

Sharing economy kemudian seolah menjadi irisan dari dinamika ekonomi, tren tenaga kerja, dan soal tuntutan perubahan budaya kerja ini. Bekerja di coworking space atau tempat-tempat kerja yang mengadopsi filosofinya pun jadi tren pilihan.

Merujuk The Coworking Wiki lansiran 2017, ada semacam manifesto untuk konsep ruang kerja bersama. Isinya adalah prinsip-prinsip yang mengedepankan kolaborasi di atas kompetisi, komunitas mendahului agenda masing-masing, partisipasi melebihi observasi, berbuat daripada berkata-kata, persahabatan di atas formalitas, keberanian di atas jaminan kepastian, proses belajar melebihi pengalaman, kelompok di atas perseorangan, serta mengedepankan value ecosystem dibanding value chain.

Value chain bisa dibilang adalah model bisnis perusahaan konvensional, dengan segala sumber daya dalam struktur yang tersentralisasi, termasuk kepemilikan atas unit produksi atau perkantoran dan lapak jualan. Michael Porter dalam buku Competitive Advantagemendeskripsikan value chain dengan membayangkan bahwa semua kegiatan dalam perusahan haruslah terkoordinasi dalam satu manajemen untuk menghasilkan produk atau layanan sebagai nilai alias value yang ditawarkan kepada pelanggan, dari hulu sampai hilir.

Dalam era yang sudah bergerak cepat sejalan dengan lompatan kemajuan teknologi informasi, semata mengandalkan value chain untuk berkompetisi dianggap sudah tidak efisien. Di sinilah konsep value ecosystem mencuat, dengan salah satu contoh paling konkret berupa sharing economy, yaitu ketika perusahaan pengelola layanan bukan pemilik sarana pelayanan.

Merujuk buku Value Architectures for Digital Business: Beyond the Business Model karya Peter Keen dan Ronald Williams, misalnya, kompetisi usaha pada hari ini adalah soal menangkap peluang bahkan kalau bisa menciptakan peluang dari ekosistem dengan tujuan memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan.

Sebagaimana praktik ekonomi berbagi alias sharing economy, untuk menjadi perusahaan yang memuaskan pelanggan, tak dibutuhkan lagi kendali penuh atas seluruh elemen value chain yang menggerakkan perusahaan.

Baca juga: Produktivitas dan Pola Kerja 4 Hari Seminggu

Konsep value ecosystem pun memungkinkan banyak pihak dengan beragam latar belakang, ide, dan bahkan sumbangsih, untuk bahu-membahu menjadikan peluang sebagai layanan yang memuaskan pelanggan sekaligus meraup kesuksesan usaha.

Dari manifesto itu saja, praktik dan filosofi sharing economy yang berbasis pada kolaborasi dan jejaring sinergi, yang umumnya berbasis pula pada teknologi internet, sudah mendapatkan perwakilan gambaran prinsip-prinsipnya.

Karena itu, pemanfaatan coworking space oleh para pekerja-pekerja muda yang kreatif dan berjejaring dalam sharing economy, menjadikan niscaya, stereotipe betapa konservatifnya budaya kerja orang timur akan terdobrak dengan sendirinya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *