Coworking Space dan Arus Baru Dunia Kerja Bernama Perennials | Ubah Cara Kerjamu

Coworking Space dan Arus Baru Dunia Kerja Bernama Perennials

Fenomena Parennials

Para parennials kini telah berkembang menjadi sebuah arus baru dalam dunia kerja.

Fakta generasi milenial telah mengubah budaya kerja selama beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia tidak perlu dipertanyakan lagi. Generasi milenial saat ini mampu hadir dengan sikap baru dan karakteristik mencolok. Mereka jauh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni Baby Boomers dan Generasi X.

Data Pew Research Center 2017 mengungkapkan, generasi milenial memiki sumbangsih 35 persen dari total jumlah pekerja di Amerika Serikat. Itu artinya, pada periode tersebut, terdapat sekitar 56 juta pekerja milenial sedang mencari kerja sehingga adaptasi gaya kerja menjadi sesuatu yang sering kita lihat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Menilik Masa Depan Gig Workers di Indonesia

Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Berdasar data Badan Pusat Statistik 2016, dari total jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 160 juta, hampir 40 persen di antaranya merupakan generasi millennial (62,5 juta). Sementara itu, Generasi X berada di menempati urutan pertama (69 juta), dan generasi baby boomers di peringkat ketiga (28,7 juta).

Salah satu hal menarik tentunya adalah bagaimana reaksi para generasi milenial tersebut dalam memandang tempat kerja mereka. Survey Employee Engagement Among Milennialsmelaporkan, dari total 1.200 narasumber yang tersebar di Indonesia, 9 persen karyawan milenial menolak terlibat dengan perusahaan tempat kerjanya. Lebih besar lagi, 66 persen tenaga kerja milenial tersebut hanya terlibat sebagian dengan perusahaan sehingga turn over jumlah karyawan dalam suatu perusahaan bisa sangat tinggi.

Dari beberapa fakta di atas menggambarkan, suasana dunia kerja memang sedikit berwarna oleh hadirnya generasi milenial. Namun, bagaimana dengan nasib para pekerja lansia yang berada di tengah-tengah gempuran generasi milenial yang kini sedang menguasai dunia kerja, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga berbagai belahan dunia?

Perennials

Laura Carstensen, profesor psikologi Stanford University menilai para pekerja lansia justru memiliki peluang besar dalam dunia kerja yang saat ini didominasi generasi milenial. Ia menyebut tipe pekerja sebagai golongan “perennials”, sejumlah pekerja lansia yang masih tetap memiliki hasrat untuk terus bekerja hingga usia 70 atau 80 tahun.

Golongan pekerja perennials ini menjadi fenomena tersendiri dalam dunia kerja di Amerika Serikat. Pusat Statistik Data Pekerja di Amerika Serikat mencatat, saat ini perennials menjadi populasi pekerja yang pertumbuhannya sangat cepat, dua kali lebih banyak dari para pekerja muda yang saat ini berstatus sebagai karyawan.

Selama kurun waktu 30 tahun dari 1994 hingga 2024, menurut Pusat Statistik Data Pekerja AS, pekerja dengan usia 55 tahun atau lebih akan berkembang dari yang awalnya berada dalam segmentasi rendah menjadi yang paling besar. Tren peningkatan para pekerja lansia ini juga diprediksi akan terjadi di beberapa negara Asia.

Hal tersebut mengacu terhadap catatan World Economic Forum yang mengabarkan tingkat populasi di Asia akan menua dengan sangat cepat. Pada 2040, 16 persen populasi di wilayah Asia akan berada dalam rentang usia lebih dari 65 tahun, dua kali lebih lipat dari catatan yang dirilis pada 2015 yakni sebesar 7,8 persen.

Baca juga: Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Meski tingkat harapan hidup cukup berkembang positif, tren peningkatan demografi usia di Asia ini dinilai dapat memunculkan ancaman serius bagi sejumlah sektor perekonomian jika tidak diantisipasi dengan tepat. Apalagi di tengah peningkatan kebutuhan pasokan pekerja-pekerja di berbagai sektor terus meningkat setiap tahunnya.

Salah satu langkah mengantisipasi kebutuhan akan pasokan pekerja tersebut adalah dengan menjaga penduduk lansia untuk tetap bekerja di luar masa pensiun. Menariknya, hal ini tercatat terus berkembang di sejumlah negara Asia.

Di Korea Selatan, misalnya. Mengacu data Organisation for Economic Co-operation and Development, pekerja dengan rentang usia 65-69 tahun di negara tersebut tercatat sebesar 45 persen pada 2016, sementara untuk pekerja rentang usia 70-74 tahun masih cukup tinggi dengan persentase sebesar 33 persen.

Kondisi di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2016, tercatat 47,5 persen penduduk lansia dengan usia di atas 60 tahun masih bekerja. Sementara itu, penduduk dengan usia produktif yang masih bekerja sebesar 64,43 persen. Menurut BPS, hal tersebut terjadi karena sebagian besar penduduk lansia masih merasa memiliki tanggung jawab terhadap perekonomian keluarganya masing-masing.

Menyoal produktivitas perennials

Keterkaitan pekerja perennials dengan dunia kerja era sekarang tentu menarik dicermati, salah satunya jika membicarakan produktivitas. Dibandingkan dengan pekerja-pekerja muda yang masih gesit dan cekatan, kiranya wajar apabila para pekerja perennials dianggap berpotensi memunculkan masalah baru dalam dunia kerja yang menuntut kerja cepat.

Namun, beberapa fakta menarik tersaji dari beberapa hasil riset dan studi. Milken Institute Center for the Future of Aging dan Stanford Center on Longevit, misalnya, yang menemukan fakta pekerja lansia justru lebih sedikit mengambil jatah cuti sakit, mampu menampilkan keahlian problem solving yang kuat, serta menunjukkan kepuasan yang sangat tinggi di tempat kerja jika dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda.

Forbes edisi 20 Juli 2017 pernah menuliskan laporan menarik bahwa pekerja lansia memang mudah terdistraksi dalam lingkungan kerja. Menurut beberapa hasil studi, hal tersebut justru merupakan tanda positif.

Salah satu contohnya adalah kesimpulan dari total 100 studi yang dipublikasikan dalam Trends in Cognitive Science Journal. Kesimpulan tersebut memaparkan distrakbilitas—yang sering disebut sebagai penurunan kontrol kognitif oleh beberapa ilmuwan—memiliki nilai positif. Nilai tersebut sebenarnya sering dikaitkan dengan upaya mempelajari hal baru serta memunculkan kreativitas dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam dunia kerja.

Dengan penurunan kontrol kognitif, hasil beberapa studi menunjukkan, orang-orang akan berupaya belajar lebih cepat dan berusaha untuk mengingat sesuatu lebih baik lagi. Sebaliknya, para golongan muda terkadang sering hanya mengejar tujuan-tujuan utama mereka sehingga justru membuat beberapa informasi penting lainnya terlewatkan.

Join Our Newsletter


Riset Sharon Thompson-Schill, Ketua Departemen Psikologi Universitas Pennsylvania juga menguatkan fakta tersebut. Menurut dia, orang-orang justru akan lebih baik dalam menghasilkan ide ketika memiliki kontrol kognitif yang kurang. Hanya saja, yang patut digarisbawahi, situasi tersebut dapat berjalan maksimal jika orang yang dimaksud memiliki akumulasi dari pengetahuan, pengalaman, dan kedewasaan yang baik pula dari suatu masalah.

Pertemuan millennials-perennials

Pada 2011 dan 2012, perusahaan konsultan Price Waterhouse Coopers (PWC) yang berbasis di London, Inggris, pernah melakukan survei terhadap 44.000 pekerja di berbagai belahan dunia untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh pekerja milenial. Hasil survei tersebut mendapati fakta, generasi milenial sangat menginginkan work-life balance. Menariknya, keseimbangan hidup itu pula yang menjadi target para pekerja perennials.

Dari hasil survei PWC, pekerja milenial dan non-milenial sama-sama lebih memilih bekerja dengan jadwal fleksibel untuk mengakomodasi kepentingan pribadi dan profesionalnya masing-masing. Pekerja yang berada di usia muda seringkali menilai fleksibilitas tersebut merupakan hal penting, di sisi lain begitu pula yang diinginkan para pekerja lansia.

Sederhananya, bekerja dengan jadwal fleksibel bisa membuat para pekerja milenial memiliki waktu untuk menejemput anak-anaknya sekolah. Sementara itu, pekerja lansia dapat melakukan hal yang sama terhadap cucu-cucu mereka.

Situasi inilah yang mendasari BMW saat menerapkan strategi untuk mengatasi persoalan penambahan umur karyawannya dengan mengurangi tingkat stres pekerja yang tidak hanya yang masuk kategori lansia, tetapi juga muda. Perusahaan tersebut menambah berbagai fasilitas di dalam kantonya, mulai dari program fisioterapi teratur hingga jam kerja fleksibel.

Upaya yang dilakukan perusahaan otomotif asal Jerman tersebut merupakan bukti inovasi yang terjadi di dunia kerja untuk mengatasi masalah perubahan demografi dan teknologi. Seiring terus berkembangnya zaman, berbagai upaya untuk menciptakan lapangan kerja berkelanjutan untuk semua jenis umur akan terus dikembangkan.

Tuntutan zaman

Hal itu kiranya cukup penting karena anggapan “bekerja lebih lama” dapat menjadi kebutuhan utama bagi banyak orang selama beberapa tahun mendatang. Ujung-ujungnya dari persoalan tentu adalah finansial masing-masing pekerja. Profesor London Business School, Lynda Gratton dan Andrew Scott, yang juga merupakan penulis The 100-Life-Life: Living and Working in a Age of Longevity, pernah memaparkan fakta menarik.

Lynda Gratton dan Andrew Scott mengkalkulasi, jika pekerja pada era saat ini mampu menghemat sekitar 10 persen dari pendapatannya untuk mewujudkan impian pensiun dengan memiliki tabungan 50 persen dari total pendapatan, mereka perlu bekerja hingga usia 80 tahun. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan ekonomi yang terus meningkat.

Dari hal tersebut, wajar jika cara kerja tradisional secara full time dapat menjadi sesuatu yang menakutkan bagi banyak pekerja dalam beberapa tahun mendatang. Belum lagi berbicara soal daya tahan fisik bagi pekerja di usia senja. Bagi Laura Carstensen, hal itu pada akhirnya hanya akan memunculkan persoalan tersendiri.

Menurut dia, model dunia kerja konvensional sudah tidak lagi berfungsi dengan baik karena dianggap gagal memenuhi semua tuntutan zaman era sekarang. Laura Carstensen berpendapat, “Orang-orang bekerja full time dan pada saat bersamaan, mereka tetap membesarkan anak-anak. Anda tidak akan pernah beristirahat dan menyegarkan diri. Anda tidak akan pernah keluar dari masalah itu. Jadi, tidak ada alasan nyata mengapa kita masih perlu bekerja dengan model seperti ini.”

Baca juga: Coworking Space dan Stereotipe Budaya Kerja Timur

Sejumlah perusahaan sejauh ini memang belum serius memikirkan sesuatu yang didambakan para pekerja perennials, yaitu program pensiun bertahap. Padahal, sejumlah fakta di atas memaparkan, daripada sepenuhnya berhenti bekerja, para pekerja lansia masih lebih memilih untuk tidak mengurangi jam kerjanya.

Mempertimbangkan sejumlah alasan, memang masih banyak perusahaan atau pengusaha yang enggan memikirkan kembali pendekatan mengenai program untuk para pekerja perennials. Namun, pada akhirnya, tuntutan pasar serta berbagai perubahan dalam dunia kerja akan tetap memaksa mereka untuk melakukannya.

Cek di sini jika Anda tertarik menggunakan fasilitas coworking space yang disediakan oleh CoHive.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *