Mengenal Coliving, Konsep Tempat Tinggal Favorit Millennial | Ubah Cara Kerjamu

Mengenal Coliving, Konsep Tempat Tinggal Favorit Millennial

Coliving

Seperti apa konsep coliving mampu memengaruhi para millennial dalam mengubah gaya hidup dan kerja mereka?

Pada tahun 2015, seorang bernama Troy Evans merencanakan sebuah bangunan dengan banyak tempat tidur dan sejumlah ruangan besar untuk orang-orang yang tinggal di sana berkumpul dan membangun komunitas. Tempat tersebut juga dilengkapi dengan dapur umum yang bisa digunakan oleh semua orang yang tinggal di sana nantinya. Tujuannya untuk menyatukan banyak orang dengan visi yang sama dalam satu atap.

Kala itu, konsep coworking space sudah cukup dikenal oleh dunia. Namun, Troy Evans mau buat satu level lebih tinggi di. Troy Evans bukan hanya mengajak para pekerja remot, digital nomad, atau memang pekerja kantoran datang ke tempat yang sama, melainkan juga mengajak mereka untuk tinggal di tempat yang sama.

Baca juga: Coliving Jadi Tren Baru Setelah Coworking Space Menjamur

Melihat kebiasaan para milenial yang dinamis, konsep yang ditawarkan kala itu sebarnya cukup masuk akal. Apalagi, Troy Evans juga ingin menawarkan peleburan dari sebuah tempat tinggal di pusat kota yang tidak menguras kantong dengan sebuah coworking space. Rencananya kala itu, satu kamar di bangunan itu akan disewakan dengan harga kisaran $700-$900 per bulannya.

“Kami mencoba menggabungkan apartemen terjangkau dengan gaya hidup berkomunitas ketimbang orang harus hidup sendirian dalam sebuah kamar di pinggiran kota,” ujar Evans, seperti dikutip dari artikel The Atlantic.

Pasar utama dari bangunan tersebut memang para milenial di New York, Amerika Serikat. Kala itu, sebuah apartemen atau tempat tinggal yang disewakan harganya sudah mencapai $1.500 per bulannya. Tidak heran kalau konsep berbagi ruang di sebuah apartemen sudah menjadi kebiasaan yang lumrah di Amerika mengingat mahalnya harga sewa yang sangat tinggi.

Bangunan tersebut bukanlah satu-satunya yang dibangun di Amerika. Sebuah apartemen bernama Pure House juga disebut-sebut sebagai “Millennial Commune” oleh kantor berita The New York Times. Di sana, para milenial berkumpul dalam satu atap dan membangun sebuah komunitas, serta melakukan banyak hal bersama yang jarang dilakukan oleh sebagian besar orang yang tinggal di kamar-kamar apartemen sendirian.

Kata “Sendiri” Paling Tidak Disukai oleh Para Milenial

Dari zaman purba, manusia memang sudah menjadi makhluk sosial. Mereka tinggal bersama, berburu dan mengumpulkan makanan, lalu pada akhirnya menghabiskannya bersama-sama. Konsep seperti itu pun sedikit-banyak mulai diadaptasi kembali dalam era digital ini oleh para milenial. Sebagian besar para milenial suka hidup berkelompok dan mengerjakan banyak hal bersama-sama.

Baca juga: Digital Nomad, Perubahan Disruptif atau Peluang?

Para milenial tidak hanya diam di rumah menonton TV atau diam di perusahaan dalam kurun waktu yang panjang. Milenial suka dengan tantangan, hal baru, dan yang paling penting mereka tidak melakukannya sendirian. Lebih nyamannya lagi, konsep ini sudah sangat berkembang di seluruh dunia. Para milenial sudah bisa menemukan coliving space di hampir setiap kota-kota besar di dunia.

Sisi marketing terbaik yang bisa ditawarkan oleh sebuah coliving adalah komunitas. Artinya, orang akan/harus menjalin hubungan dengan orang lainnya dan melakukan sesuatu bersama. Dari komunitas itulah, proses bisnis bisa dijalani dengan maksimal.

Dengan kata lain, melakukan hal-hal sebagai kodratnya manusia, yaitu bersosialisasi. Coliving ‘memaksa’ seseorang untuk tinggal bersama dengan 4-5 orang di satu kamar yang sama, berbagi dapur yang sama, dan menggunakan kamar mandi yang sama.

Join Our Newsletter


Investasi Rumah Sudah Tidak Menarik untuk Milenial

Milenial mempertahankan status “tidak menikah” lebih panjang dibanding dari generasi-generasi sebelumnya. Selain itu, milenial punya kecenderungan untuk menyewa tempat tinggal dibanding harus berusaha untuk mendapatkan sebuah rumah idaman.

Situs Urban Institute melaporkan adanya penuruan kepemilikan rumah pada tahun 2015 dalam generasi milenial di Amerika Serikat hampir mencapai angka 9 persen. Hanya 37 kaum milenial di Amerika yang memiliki rumah. Bandingkan dengan Gen X dan Baby Boomers yang punya angka hingga 45% di umur yang sama.

Memang banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Selain harga rumah yang cenderung sudah sulit terjangkau oleh para milenial, angka status pernikahan kaum milenial juga semakin rendah. Istilahnya, “buat apa punya rumah kalau belum memiliki pasangan.”

Baca juga: Menilik Masa Depan Para Gig Workers

Investopedia melaporkan, kurang dari 60% orang-orang Amerika berumur 25-34 tahun yang sudah tinggal bersama dengan pasangannya. Angka tersebut menurun drastis sejak tahun 1967 silam. Generasi sebelumnya sudah mencapai angka 80% yang sudah tinggal bersama dengan pasangan pada usia yang sama.

Kebiasaan berpindah-pindah tempat tinggal dan kerja yang buat konsep coliving tampaknya semakin sesuai dengan para milenial. Dibanding mereka harus tinggal di rumah yang jauh dari komunitasnya atau meninggalkan rumah dalam kurun waktu yang panjang, lebih baik tinggal berbagi dengan orang lain setiap kali berpindah tempat.

Cek di sini jika Anda ingin menggunakan fasilitas coworking space milik CoHive untuk bekerja.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *