Startup Artificial Intelligence: Apa dan Bagaimana Potensi Bisnisnya? | Ubah Cara Kerjamu

Startup Artificial Intelligence: Apa dan Bagaimana Potensi Bisnisnya?

startup AI

Startup Artificial Intelligence menjadi salah satu tren tersendiri pada era saat ini. Bagaimana potensi menggeluti bisnis tersebut?

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi raksasa menggelontorkan ratusan juta dolar untuk melakukan riset mengenai Artificial Intelligence (AI). Bagaimana dengan peluang perusahaan rintisan atau startup saat ingin ikut serta terlibat dalam pasar AI dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut?

Riset yang dilakukan James E. Bessen, peniliti University of Boston memberikan pemaparan menarik tentang bagaimana sejumlah startup bekerja, serta peluang mereka bersaing dengan perusahaan yang lebih besar dan mapan. Hasil riset tersebut menguatkan fakta bahwa AI adalah pasar yang kuat dan kompetitif untuk ekosistem startup, tapi juga memiliki beberapa batasan penting yang perlu diperhatikan.

Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman Lewat Peran UX Writer

Perusahaan teknologi besar memang memiliki beberapa keunggulan dibanding perusahaan rintisan. Misalnya, perusahaan teknologi tersebut tentu saja dapat berinvestasi dalam jumlah sangat besar untuk melakukan research and development (R&D), memiliki akses ke sejumlah pusat data, aset lengkap serta pasar yang mapan. Dari sejumlah fakta tersebut, wajar jika banyak bermunculan anggapan para pemilik perusahaan rintisan akan kesulitan bersaing dengan perusahaan teknologi raksasa seperti Google atau Amazon.

Dalam risetnya, James E. Bessen justru tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut. Menurut dia, apabila berbicara soal big data, status menjadi perusahaan besar belum tentu sangat krusial. Google, misalnya, yang hingga saat ini terus bereksperimen dengan mesin pencarinya lebih untuk meningkatkan hasil yang dicapai bukan dengan terus mengembangkan volume data mesin pencarian.

Demikian juga dengan Amazon yang telah menemukan keakuratan prediksinya, bisnis e-commerce tidak terus membaik hanya dengan menambahkan banyak produk. Dari dua contoh di atas, dapat diambil kesimpulan sederhana kalau ternyata memiliki kuantitas data bukan hal utama, melainkan lebih kepada bagaimana perusahaan menggunakan data tersebut agar dapat terus bersaing secara kompetitif. Titik inilah yang pada akhirnya membuat sejumlah startup AI masih dapat berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut.

Sudah banyak contoh mengelola aset dalam big data menjadi hal krusial. Di Indonesia, misalnya, di tengah berkembang pesatnya perusahaan teknologi rupanya masih banyak perusahaan yang belum memiliki pemahaman yang baik tentang mengelola data. Padahal, seberapa baik kualitas data yang diambil, memilah data yang tepat sesuai kebutuhan bisnis sangat krusial untuk keberlangsungan suatu perusahaan teknologi.

Aset Big Data

Client Success Director APAC, Lotame Nishanth Raju, mengatakan, semakin banyak data yang dikumpulkan perusahaan rintisan untuk dipelajari memang bagus. Namun, menurut dia, ada beberapa hal krusial yang tanpa disadari berpotensi memunculkan masalah. Satu di antaranya adalah penyaringan data yang tidak sesuai dengan tujuan pasti apa yang ingin didapat dari big data tersebut.

“Padahal dalam menerjemahkan yang baik dari data mentah itu butuh proses. Ada yang perlu dikategori kembali, perlu dibuang atau tidak. Ketika proses sudah tepat, proses menerjemahkan data menjadi sebuah strategi bisnis akan lebih tepat sasaran dengan apa yang menjadi tujuan perusahaan,” kata Lotame Nishanth Raju.

Baca juga: Startup Fintech dan Masa Depan UKM di Indonesia

Startup AI biasanya menggunakan data-data yang berasal dari pelanggan mereka sendiri untuk menjalankan bisnisnya. Menurut hasil survei The Business of AI Startups, 80 persen responden para pemilik startup AI mengungkapkan memang menggunakan data pelanggan perusahaan mereka sendiri, sementara 63 persen menggunakan data publik dari pihak ketiga, termasuk data dari pemerintah, riset internet, serta data publik.

Separuh perusahaan (51 persen) juga mengombinasikan data pelanggan dengan data sumber lain. Hanya 6 persen startup yang cuma mengandalkan data mereka sendiri untuk menentukan kebijakan bisnis perusahaan. Hal terpenting dari fakta ini adalah sebagian besar startup memiliki hak penuh atas data pelanggan mereka sendiri sehingga dapat bertindak sebagai agregator serta mengumpulkan data dari banyak pelanggan. Jika terus dikembangkan, tentu saja mereka bisa memiliki big data yang bisa sangat berguna.

Pasar Startup AI

Startup yang bergerak di bidang AI juga memainkan peranan unik untuk memberikan solusi bagi para perusahaan rintisan menengah yang tidak mampu mengembangkan bisnis mereka sendiri. Perusahaan teknologi raksasa yang melakukan investasi besar terhadap R&D AI biasanya hanya untuk kebutuhan mereka sendiri.

Upaya itu tentunya membutuhkan data yang besar secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tentu saja akan sangat sulit bagi perusahaan rintisan mengikuti langkah tersebut. Di titik ini, startup AI dapat memainkan perannya untuk membantu perusahan-perusahaan tersebut. Secara tidak langsung, cara ini cukup efektif memaksimalkan biaya pengembangan startup AI karena mereka tentunya akan mendapatkan data-data pelanggan baru.

Meski memiliki peranan penting, penetrasi perusahaan rintisan AI memang dianggap belum maksimal menjalankan bisnis dalam pasar yang lebih besar. Hal ini dapat dilihat dari data, hampir setengah startup AI di Amerika Serikat menjual jasanya kepada perusahaan rintisan menengah (51-1000 karyawan). Sebagai perbandingan, hanya 26 persen dari total karyawan di AS bekerja di perusahaan rintisan menengah tersebut.

Menurut survei The Business of AI Startups, tidak proporsionalnya penetrasi tersebut karena pangsa pasar besar, seperti bidang e-commerce, transportasi, dan logistik, saat ini masih didominasi perusahaan-perusahaan raksasa. Startup AI, mengacu terhadap data survei, lebih banyak melebarkan bisnisnya dalam bidang jasa finansial (28 persen), retail (23 persen), media and entertainment (12 persen), dan telekomunikasi (10 persen).

Join Our Newsletter


Pasar di Indonesia

Dari berbagai industri pasar AI tersebut, Indonesia menjadi salah “makanan” besar bagi para pemilik bisnis startup AI. Hal ini didasari fakta bahwa Indonesia memiliki hampir separuh total populasi di Asia Tenggara dan dengan berbagai variasi demografik yang luas sehingga skala ekonomi serta biaya peningkatan hidupnya sangat tinggi.

Di Indonesia, AI memang belum memiliki kompleksitas menyeluruh seperti di negara-negara maju lainnya. Di China, misalnya, yang pengaplikasian AI sudah terintegerasi dengan kehidupan masyarakat. Jika ingin berbelanja di restoran cepat saji, masyarakat China bahkan tidak perlu mengeluarkan ponsel pintar karena restoran tersebut sudah mengetahui identitas dan calon pembeli serta memiliki saldo hanya lewat pemindaian kamera.

Saat ini, teknologi AI di Indonesia yang paling sering ditemui adalah teknologi chatbot di sejumlah aplikasi pesan online. Meski begitu, tren terhadap teknologi AI diprediksi akan terus meningkat. Berdasar hasil survei bertajuk IDC Asia/Pacific Enterprise Cognitive/AI Survey 2018 juga menyatakan, adoptasi teknologi AI di Asia Tenggara terus menanjak selama beberapa tahun terakhir dan Indonesia menjadi salah satu negara teratas.

Dari survei tersebut tercatat, sebanyak 24,6 persen organisasi di Indonesia telah mengadopsi AI, sementara Thailand berada di posisi kedua (17,1 persen), diikuti Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen). Industri yang menggunakan teknologi AI di negara-negara tersebut tidak jauh berbeda dengan fakta yang ditemukan di AS, yakni perbankan, telekomunikasi, healthcare, hingga fast moving consumer goods (FMCG).

Chwee Kan Chua, Global Research Director, Big Data and Analytics and Cognitive/AI, IDC Asia/Pacific, menyatakan, perkembangan ini menjadi tren positif bagi para startup AI untuk mengembangkan bisnisnya. Menurut dia, “Semakin banyak organisasi mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka masing-masing, serta bagaimana data serta analisis dapat membantu mengungkap wawasan baru.”

Rintangan

Head of Operation IDC Indonesia, Mevira Munindra, mengatakan, meski teknologi AI sedang berkembang pesat, adopsi teknologi tersebut dalam bidang industri di Indonesia memang tidak akan berlangsung cukup cepat. Menurut dia, masih ada sejumlah langkah-langkah yang perlu dilakukan pelaku industri untuk mengadopsi AI secara sempurna. Salah satu hal krusial kembali bagaimana cara mereka mengolah data-data yang dikumpulkan.

“Kalau kami lihat, secara observasi, belum banyak perusahaan di Indonesia yang mempunyai data warehouse dan data capabilities. Itu langkah yang harus diperbaiki dulu oleh perusahaan untuk masuk ke arah sana,” kata Mevira Munindra.

Tantangan lainnya adalah akses terhadap para talenta yang berkecimpung dalam bidang tersebut. Persoalan ini kiranya tidak hanya terjadi di Indonesia karena sejumlah negara lain juga mengalaminya, termasuk AS. Menurut Sachin Chitturu, Digital Core Leader McKinsey & Company, hal tersebut terjadi karena terbatasnya jumlah ilmuwan data, dan sekalipun ada biasanya untuk menggaji mereka tidaklah murah.

Dari berbagai fakta di atas, bisnis startup AI dianggap masih akan terus berkembang di pasar yang sangat kompetitif meskipun masih berada di tengah berbagai hambatan. Mereka akan terus bersaing dengan data-data yang tersedia untuk kebutuhan bisnis mereka serta memenuhi kebutuhan sejumlah perusahaan rintisan menengah, yang pada gilirannya juga memungkinkan mereka untuk bersaing dengan perusahaan teknologi besar.

Kuncinya lebih kepada kesadaran para pemiliki startup AI untuk membuat visi dan misi, serta strategi bisnis perusahaan dan apa target mereka dengan data yang sudah terkumpul. Tidak masalah seberapa besar ukuran perusahaan karena keberadaan data adalah hal terpenting untuk mendukung bisnis di era digital. Jika demikian, kita tidak akan perlu waktu lama untuk menikmati kehadiran berbagai teknologi AI yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti satu di antaranya adalah menggunakan teknologi Virtual Reality (VR).

Virtual Reality (VR)

VR merupakan teknologi yang memungkinkan kita dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan 3 dimensi yang distimulasikan oleh komputer terhadap suatu objek nyata atau imajinasi. Teknologi ini biasanya dicapai dengan mengenakan headset yang sudah dilengkapi sebuah teknologi canggih untuk menyempurnakan realitas imajiner yang awalnya diimplementasikan pada game, hiburan, dan permainan.

Namun, apakah VR hanya dikhususkan untuk penggemar game saja? Tentu saja tidak karena sudah kini sejumlah perusahaan startup menggunakan teknologi tersebut untuk mengembangkan bisnisnya. 

Baca juga: Siapkah Generasi Millennial Menghadapi Tantangan Industri 4.0?

Apalagi, dengan semakin banyaknya pekerja lepas, teknologi VR diyakini dapat sangat membantu dalam menghemat biaya operasional. Hal ini disebabkan karena hanya dengan melalui Virtual Reality, seseorang dapat ikut rapat serta menyampaikan pendapat tanpa harus pergi keluar rumah. Karena tidak perlu keluar rumah, maka seseorang tidak perlu mengeluarkan uang untuk menuju ke sebuah kantor. Selain biaya operasional, virtual realityjuga dapat membantu dalam menghemat waktu. 

Jika biasanya perjalanan dari rumah A ke kantor membutuhkan waktu satu jam, dengan Virtual Reality, seseorang hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk bersiap-siap sebelum melakukan rapat melalui VR. Selain itu, kesulitan bekerja antar kota atau antar negara sekali pun dapat teratasi dengan teknologi VR. Jika seseorang bekerja untuk sebuah proyek di luar kota, ia tidak perlu jauh-jauh ke kota tersebut untuk melihat perkembangan proyek. Ia hanya membutuhkan teknologi VR sehingga ia dapat melihat dengan jelas sejauh mana perkembangan proyek tersebut. 

Bagaimana tertarik mencoba berbagai teknologi ini?

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *